Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 17 Juli 2012

Ah,, G’MALU,!!! PROFESIKU IBU RUMAH TANGGA


Pagi itu tanggal 15 juli hari akhad berkumpul para ibu-ibu di balai desa gonilan kartasura. Mereka hadir dengan niat yang tulus dan ikhlas untuk mengikuti pelatihan dukungan positif bagi pengasuhan anak. Bagaimana mereka tidak tulus dan ikhlas?? Mereka telah menyempatkan waktu pagi hingga siang pukul 14.00 hanya untuk menjadi pendengar agar dapat wawasan tentang pengasuhan anak yang benar. Yach,,bagi mereka yang tidak punya niat yang ikhlas tentu waktu pagi, mereka lebih utamakan untuk di rumah, entah ngobrol dengan tetangga atau sekedar duduk-duduk di teras rumah menunggu pedagang kaki lima. Lagi pula hari itu adalah hari akhad bertepatan dengan hari libur bagi mereka yang bekerja di instansi-instansi. Jadi peluang bagi ibu-ibu untuk menikmati hari liburnya sangat terbuka lebar.
Namun niatan untuk menikmati hari libur yang tanpa makna, lebih diurungkan oleh para ibu-ibu yang hadir dalam pelatihan di balai desa gonilan. Satu persatu ibu-ibu datang dengan sapaan dan ekspresi tersenyum. Anak-anak kecil digendong menjadi bukti rasa kasih sayang seorang ibu sedangkan raut wajahnya terlihat seolah tidak menanggung beban saat bertemu dengan setiap orang. Mereka mulai duduk di kursi-kursi yang telah dipersiapkan oleh para panitia sembari menunggu hadirnya pembicara.
Tepat pukul 10.20 acara dimulai, meski jadwal yang telah direncanakan pukul 09.00 tapi tidak masalah bagi ibu-ibu yang sudah menunggu sejak awal (barangkali mereka sudah memaklumi,,klo tradisi soal waktu di Negara ini selalu mundur heehee), eits,,kemunduran rencana waktu bukan karena panitianya yang molor lho,,,tapi dengan penuh kesabaran panitia menunggu hadirnya ibu-ibu. Soalnya saat itu yang datang baru dua orang hiihii,,bener-bener karakter indo banget ^ ^.
Suasana Seminar hehe ^ ^
So start aja deh,,pukul 10.20 acara di mulai. Pelatihan diawali dengan senam menari selama lima menit dengan diiringi alunan musik penggugah semangat,,,Ayo “ibu-ibu kita gerakkan telapak tangan kita,,dengan nada suara,,tang ting tung tang,,ting tung,,lalu letakkan tangan di pinggul sambil goyangkan badan kesamping dua kali,nah sekarang gerakan tangan bebas ibu-ibu senyaman kalian”. Hehee,,hee suuer lucu banget saat lihat ibu-ibu itu menari. Keceriaan pun akhirnya terlihat dalam ruangan tersebut. Hhee seolah kembali lagi seperti saat waktu masih kanak-kanak ya ibu,,^ ^.
Nah, setelah senam tari selesai saatnya komando sersan (serius tapi santai) di awali. Pemberian meteri pun disampaikan dengan penuh gaya variatif sehingga tidak bikin para ibu mengantuk. Berbagai pertanyaan tentang pengasuhan anak pun dilontarkan oleh ibu kepada pembicara. Yach,,inilah bukti ibu-ibu serius klo mau mendidik anaknya lho..^ ^. Meteri pertama di sajikan bagaimana komunikasi yang postif dan membangun emosional anak. Saya yang saat itu sebagai observer pelatihan di dalam rungan Cuma bisa bergumam,,”semangatmu mencari ilmu sungguh luar biasa bu,,fisikmu sudah tidak lagi muda tapi jiwamu masih muda dan membara, sungguh engkau telah mengalahkan kami yang masih muda. Kesungguhanmu untuk menciptakan generasi cemerlang selalu engkau bingkai dalam rasa kasih sayang” awesome!!! Pelatihan yang sangat menarik.

Meteri yang kedua adalah tentang profesi seorang ibu. Taukah kalian profesi yang paling mulia? Taukah kalian profesi yang paling berat? taukah kalian profesi yang membutuhkan kesabaran ekstra? Dan taukah kalian profesi yang menentukan maju mundurnya bangsa kalian?. Begitulah sedikit pertanyaan dari pembicara. Seolah seperti suara orasi yang menuntut hak jawab dari para perempuan setengah baya. Sunyi dan tenang saat itu suasana tercipta, para ibu-ibu hanya terdiam dengan sorotan mata ke depan. Entah ekspresi yang mereka munculkan sebuah perenungan,ataukah hanya sekedar menunggu penjelasan. tapi yang jelas bukan sebuah ekspresi ketegangan hehe..
Tak lama kemudian, Pembicara pun akhirnya menjawab sendiri pertanyaan yang dilontarkannya, “Ibu-ibu sungguh pekerjaan yang paling mulia bagi seorang ibu adalah sebagai ibu rumah tangga”. Seontak, saya melihat ekspresi dari para ibu-ibu seolah mereka dikagetkan dengan jawaban tersebut. Sorot matanya mulai tajam, duduknya mengedepankan badan seolah memposisikan dirinya bagai raja yang dikagetkan dengan berita negative. Gleg,,air liur yang semula di mulut seolah dipaksa masuk dalam tenggorokan. Barangkali dalam hati mereka berontak, “Kenapa”???, sebagai ibu rumah tangga kan Cuma membersihkan rumah dan mengurus anak dan itupun tidak mendapatkan penghasilan, jadi mana kemuliaannya dan kenapa maju mundurnya bangsa terletak pada pekerjaan itu?”. Heem,,. Pembicara pun tidak menjawab langsung pertanyaan “kenapa?” yang seolah keluar dari rasa penasaran para perempuan setengah baya itu. Jawaban itu diawali dari cerita, ya,,cerita, inilah yang menjadi seni untuk melegakan beban penasaran dan menghibur pikiran. Beberapa cerita yang realita pun di ceritakan satu persatu, saat itu pembicara menceritakan kisah bagaimana bunda  syeh imam al-matrud mendidiknya hingga menjadi imam yang tersohor di seantero belahan dunia. Ya,,imam al-matrud, siapa yang g’ kenal dia? Muslim yang cinta membaca al-qur’an pasti akan mengenal dia. Matrud kecil saat itu didik oleh ibunya dengan sebuah visi yang agung, visi yang terlahir dari rasa keinginan sang bunda untuk memiliki anak penuntunnya di hari akhir nanti. Matrud kecil di kenalkan dengan ulama-ulama besar hingga ketika dia menginjak usia pendidikan, dicarikannya seorang syech yang bacaan al-qur’annya sangat merdu dan bagus. di dinding kamarnya si matrud, tertempel tulisan syech al-matrud al-hafidz. Matrud yang saat itu masih kecil hanya melihat tulisan itu sebagai sebuah hiasan yang biasa di tempel di dinding. Tapi bagi sang bunda tulisan itu nantinya akan memancarkan energy power ketika anaknya melihat dan kelak dia akan mengidolakan tulisan itu. Kenapa bisa?? Karena sang anak akan merasa bangga, karena namanya tertulis di dinding dengan kalimat yang agung,,yach,,kalimat agung. Syech Al Matrud Al hafidz imam masjid besar.
Al-matrud akan merasa bahagia, karena ibunya memberikan pujian, syech, al-hafid dan imam masjid. Pujian seperti itu biasanya dimiliki oleh orang besar yang sering dia timba ilmunya. Pada akhirnya, benar apa yang diimpikan oleh sang bunda Matrud, Matrud kini tumbuh sebagai seorang syech yang hafidz sekaligus menjadi imam masjid ternama. Perjuangan sang bunda yang tak mengenal lelah, penat untuk menjalankan profesinya sebagai seorang ibu rumah tangga kini terbayar sudah oleh seorang anak yang mampu dikenal oleh di belahan dunia manapun? Iya itulah syech Al Matrud Al-Hafidz imam masjid makkah. Bukankah ini sebuah prestasi yang besar wahai ibu-ibu? Tanya sang pembicara. Prestasi yang jauh mulia dan agung dari pada nilai rupiah yang kalian terima tiap bulan sebagai seorang wanita karir. Prestasi yang mampu memberikan kepuasaan sampai dimensi ukhrowi. Prestasi yang langsung mendapatkan legitimasi penghormatan dari sabda kanjeng nabi, secara tersirat seperti inilah bunyi potongannya “bahwa seorang anak yang hafal al-qur’an kelak dia di akhirat akan mengangkat derajat orang tuanya dengan dipakaikannya mereka baju putih serta mahkota yang bagai raja.”


Hem,,orang tua mana yang tidak menginginka kemulian itu? Di dunia dia dihargai di akhirat dimuliakan. Subkhannallah !!! itulah berkat kerja profesi ibu rumah tangga. Mendengarkan cerita tersebut, ekpresi wajah para perempuan setengah baya yang masih setia dengan cerita seolah terkagum, Terucap dengan lirih dari salah satu mulut seorang ibu kalimat ketakjuban “subkhannallah”. Pandangan matanya mulai tersorot ke luar ruangan, sekilas menyaksikan ramainya anak-anak bermain. Mungkin dalam hati dia berkata “Anakku maafkan ibumu yang telah banyak menuntutmu untuk mendapat nilai bagus, sekolah pintar dan jadi orang besar tapi ibumu amat sedikit membelai perasaanmu untuk memotivasimu. Maafkan ibumu yang tak pernah memujimu, ibu sadar kau adalah anak kecil. Duniamu penuh dengan kesenangan selalu ku samakan dengan duniaku yang penuh dengan kesibukan. Kemarahan sering ku lontarkan pada kalian. Namun, hak dendam mu atas kemarahanku kalian ganti dengan panggilan kasih sayang, ibu aku merindukanmu. Sungguh suci dan polos pribadimu”.
Suansana pelatihan saat itu benar-benar terkesan dengan penuh kesyahduan. Pembicara pun masih ingin menekankan pada ibu-ibu. Bahwa berprofesi sebagai ibu rumah tangga adalah tugas mempersiapkan tunas-tunas peradaban yang siap memberikan kecemerlangan zaman. di contohkannya lagi peran seorang ibu Thomas alfa Edison.yach,, pasti kalian tau donk siapa Thomas Alfa Edison itu??, “Thomas Alfa Edison seorang anak yang di cap bodoh oleh guru kelasnya. Sikap keputus asaan para guru mengajar si Thomas, di perlihatkan melalui secarik kertas yang dititipkan pada si Thomas untuk disampaikan pada ibunya. “maafkan saya, saya sudah tidak bisa mengajar anak anda. Anak anda benar-benar bodoh. Silahkan anda ajarkan sendiri.” Deg,,denyut jantung Ibunda Thomas seolah berhenti dalam hitungan detik. Bagai seorang yang dipukul dengan pukulan yang sangat keras, pukulan yang menghasilkan bekas dalam sejarah hidup dunia. Seorang ibu mana yang tidak kaget, membaca sepucuk surat dari orang yang dianggap  ahli dalam menuntaskan kebodohan. “Anak anda adalah anak bodoh.”
“Menyesali dan memarahi orang yang memberi surat tersebut tidaklah penting yang terpenting adalah bagaimana membuktikan bahwa anak saya adalah seorang anak yang pintar. Dan saya akan membuktikan itu pada dunia. Gumam bunda Thomas pada anaknya. Anaku?, sapa bunda Thomas dengan senyuman manis dan belaian kasih sayang. “Kamu adalah anak yang pintar dan kau akan menjadi orang besar dunia akan mengenalmu. Mari ibu akan ajari kamu arti kehidupan dengan penuh kegigihan dan kesabaran.”. Thomas yang saat itu masih kelas 4 SD hanya tersenyum seolah mengiyakan apa yang dikatakan oleh ibunya bahwa kelak dirinya akan menjadi orang yang besar. Singkat cerita, kini buah karya Thomas alfa Edison telah terlihat nyata, dunia telah menyaksikannya. Taukah kalian siapa dibalik kesuksesan dia? Siapa lagi klo bukan ibu rumah tangga.
Kini peserta ibu-ibu sudah mulai open mind bahwa tugasnya bukanlah mengejar karir belaka tapi ada tugas yang jauh lebih besar yaitu IBU RUMAH TANGA (IBU RT). Untuk membangkitkan suasana, pembicara pun meminta takbir para ibu, ALLAHU AKBAR!!, gemuruh takbir pun akhirnya berkumandang di ruangan tersebut.
Akhir dari pelatihan tersebut ditutup dengan sebuah perenungan bagaimana menjadi seorang ibu yang berhasil menciptakan benih-benih peradaban yang cemerlang. Serangkain kata-kata dari mas salim afillah dipakai untuk mensyahdukan suasana.“Ibu engkaulah madrasah agung, tempat anak-anak mempertanyakan semesta dengan akrab, harapan paling memuncak dan keinginan paling dalam. Ini dermaga pengaduan paling luas saat mereka rasa teraniaya. Ini belai paling menentramkan saat mereka gelisah. Dan ini dekapan paling memberi rasa aman saat mereka ketakutan. Ibu, Engkau perpustakaan paling lengkap, kelas paling nyaman, lapang paling lapang, tak bisa tergantikan oleh gedung-gedung yang tak bernyawa. Ibu…begitulah jiwa polos anakmu memanggilmu, mereka rindu pujianmu, rindu kasih sayangmu, rindu kau menyapanya dengan panggilan kasih sayang , “anaku engkau yang terbaik yang ibu miliki.”.
Syahdu benar saat itu suasana tercipta, rintihan air mata membasahi pipi. Kini para perempuan setengah baya mulai menyadari bahwa mereka sadar profesi sebagai ibu rumah tangga adalah paling terbaik. Itu profesi tak dapat diraih melalui syarat jenjang pendidikan S3. Tapi hanya butuh syarat “ LOVE”.
Begitulah sekelumit kisah hari akhad yang penuh dengan kesyahduan bagi para ibu-ibu .Semoga tulisan ini dapat memberikan inspirasi bagi para ummahat (Calon Ibu-ibu) dan semoga calon istri ku yang namanya masih di lauful mahfuz pun, bisa mengerti akan tugas agungnya kelak hhoho ^ ^.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar