Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sabtu, 02 Juni 2012

Memformulakan Pesantren sebagai Embrio Masyarakat Madani melalui Strategi Pemberdayaan Skill Santri

Pesantren tumbuh bersamaan dengan pertumbuhan islam di indonesia. Visi dan misi awal terbentuknya pesantren tidak terlepas dari visi misi agama islam yaitu untuk membangkitkan intuisi beragama dan menggugah fitrah kemanusiaan (insaniyah) sehingga menjadi pemeluk agama yang taat dan patuh pada aturan-aturan islam (muttaqin). Tujuan pendidikan tersebut memberikan dampak pada perluasan agama islam di Indonesia menjadi semakin luas.
Keberhasilan pesantren masa dahulu dalam merealisasikan visi dan misinya memberikan rasa simpati pada masyarakat. Sehingga lembaga pendidikan tersebut sampai saat ini masih tetap survive. Banyak dari sebagian masyarakat sekarang masih memilih anaknya untuk belajar di pesantren dengan alasan sebagai berikut, adanya anggapan bahwa mendidik agama bagi anak adalah suatu kewajiban sehingga pesantren merupakan solusi yang tepat, di sisi lain pesantren merupakan lembaga yang baik dalam menata akhlak anak dan biaya pesantren yang relative terjangkau terutama di pesantren yang masih bercorak tradisional.
Besarnya kepercayaan masyarakat terhadap pesantren dan semakin majunya perkembangan zaman menimbulkan formulasi yang baru pada lembaga pendidikan tersebut, baik dari segi menejemen pesantren, gaya kepemimpinan kyai atau ustadz, pengembangan visi, perubahan model pembelajaran dan pemberdayaan sumber daya manusia. Pesantren yang tidak peka terhadap kemajuan zaman hanya akan mendidik para santrinya “terkurung dalam tempurung ego”. Para santri hanya akan memiliki karakter kesholehan secara pribadi sedangkan keshalehan untuk orang lain (kemuslihan) menjadi terabaikan. Tergambar dengan jelas dalam lingkungan sekitar, bahwa para alumni dari pesantren banyak yang kebingungan dalam mencari pekerjaan. Hal ini disebabkan, rendahnya ketrampilan yang dimiliki kaum santri dan masih tidak diakuinya ijazah lulusan dari pesantren oleh sebagian lembaga-lembaga yang membuka lowongan pekerjaan.
Dewasa ini kemajuan teknologi dan era globalisasi menjadi tantangan yang harus ditanggapai oleh lembaga pendidikan pesantren. Era globalisasi telah banyak merubah sikap hidup masyarakat. Nilai-nilai materialistik seolah telah menghipontis sebagian masyarakat sehingga menjadi prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, tidak jarang banyak dari sebagian para orang tua beralih memilih sekolahan yang lebih siap dalam menyiapkan peserta didiknya di masa depan. Dengan demikian, pesantren sudah bukan menjadi prioritas utama bagi masyarakat dalam menitipkan anaknya. Terabaikannya pesantren juga tidak lepas dari persepsi masyarakat tentang fenomena pesantren yang cenderung masih konservatif, tradisonal dan ortodoks. Sehingga menimbulkan animo di sebagian kalangan masyarakat, bahwa pesantren bagaikan “penjara” bagi anak. Segalanya penuh dengan peraturan dan anak sangat sedikit memiliki ruang kebebasan dalam mengembangkan kemampuannya.
Fenomena diatas memberikan gambaran bahwa pesantren yang tidak sanggup menjawab tantangan kemajuan zaman, akan semakin kehilangan kepercayaannya dalam masyarakat. Pesantren yang dahulu sebagai embrio untuk mencerahkan hidup umat manusia di atas kesusahan dan penderitaan hidup yang penuh dengan startifikasi sosial, pesantren yang dahulu juga sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad Mansur suryanegara (2010), sebagai pengkaderan calon pemimpin yang memiliki kemampuan pembangkit kesadaran cinta pada tanah air, bangsa dan agama serta kemerdekaan, kini seolah telah hilang fungsi strategisnya di terjang oleh arus globalisasi zaman.
Dengan demikian, pengembangan pesantren menjadi tugas yang harus dipikirkan dan direalisasikan oleh segenap masyarakat muslim untuk menjawab tantangan kemajuan era globalisasi. Bukan lagi penjajahan secara fisik yang diselesaikan oleh pesantren saat ini, akan tetapi lebih pada apa saja yang diperlukan oleh pesantren dalam merealisasikan pengembangannya dan bagaimana upaya pesantren dalam memberdayakan skill atau potensi para santri untuk menanggapi arus era globalisasi. Mengingat era globalisasi merupakan tantangan yang  membawa konsekuensi secara sistemik. Berawal dari makin kaburnya jati diri bangsa hingga sikap materalistik yang dibingkai hukum rimba- yang kuat harta makin berkuasa yang lemah harta dipaksa menyerah.
A.    Pembahasan
Era globalisasi sering diasumsikan dengan kaburnya batas teritorial bangsa. Tergambar dengan jelas bahwa masyarakat memiliki keleluasan dalam kehidupannya sehari-hari. Akan tetapi keleluasaan tersebut, seringkali membawa konsekuensi pada hilangnya jati diri dan sikap hidup bangsa pribadi. Keteladanan bangsa sendiri sering ditimbang dengan keteladanan dari bangsa yang lebih maju sehingga melahirkan sikap hidup yang akulturalistik. Sifat corak kehidupan yang seolah semakin mempertuhankan hawa nafsu cenderung membawa sikap hidup yang materialistik.
Di sisi lain, pendidikan berlomba-lomba disetting untuk pemenuhan kebutuhan materialistik. Tercermin proses pendidikan dijalankan untuk melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas namun lupa nilai-nilai moralitas.  Oleh sebab itu tidak mengherankan, jika budaya korupsi semakin tumbuh subur di negeri yang ditimpa kemelaratan hutang meski kesuksesan telah melintang. Fenomena tersebut pun menjadi permasalahan bagi pemerintah terutama kementrian pendidikan dan kebudayaan sehingga timbul solusi untuk menerapkan sistem pendidikan karakter.
Sistem pendidikan karakter adalah usaha untuk menginternalisasikan nilai-nilai moral pada peserta didik. Pada dasarnya, proses internalisasi nilai-nilai moral adalah bertujuan untuk pendewasaan peserta didik, yang sudah tercantum dalam hakikat pendidikan itu sendiri tanpa disertai dengan simbol-simbol karakter. J Sudarminta (1990), mengemukakan bahwa pendidikan secara luas dan umum adalah usaha sadar yang dilakukan oleh pendidik melalui bimbingan, pengajaran, dan latihan untuk membantu peserta didik mengalami proses pemanusiaan diri ke arah tercapainya pribadi yang yang dewasa-susila. Hal ini senada dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 yaitu ”Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Konsep tujuan pendidikan nasional barang kali pada awalnya merupakan  penjabaran dari tujuan lembaga pendidikan yang sudah ada yaitu pesantren. Karena mengingat pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang tujuan utamanya tidak lepas dari pembentukan sikap peserta didik. Assegaf (2007), mengatakan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan islam tradisional yang bersifat non-formal, dengan materi-materi keagamaan. Oleh karena itu tujuan dari pesantren tidak lepas dari tujuan pendidikan islam itu sendiri.
Feisal (1995), mengemukakan bahwa tujuan pendidikan islam berorientasi pada pembinaan sikap dan pengembangan iptek, pembinaan ketrampilan dan fisik dan pembinaan tentang fungsi dan interelasi seorang individu di dalam lingkungan masyarakat. Lebih lanjut Baharuddin (2009), mengatakan bahwa pendidikan islam merupakan proses pelestarian dan penyempurnaan kultural islam yang selalu berkembang dalam suatu proses transformasi budaya yang berkesinambungan di atas konstanta wahyu yang merupakan nilai universal. Berdasarkan tujuan pendidikan islam yang telah terkemukakan di atas, maka pesantren sebagai pendidikan islam seharusnya memiliki dinamika yang cepat dan progresif dalam mengikuti perkembangan kemajuan zaman dengan tidak melepaskan nilai-nilai ilahiahnya.
Pesantren yang mampu menjawab kebutuhan manusia seiring dengan kemajuan zaman era globalisasi adalah pesantren yang tidak hanya bergerak dalam urusan pembinaan akhlak saja. Akan tetapi mampu menerapkan sistem pengajaran ketrampilan dalam memberdayakan skiil para santri agar mampu tercermin sifat keshalehannya untuk orang lain (anfau’um linnas). Oleh karena itu, pemahaman tentang realitas kebutuhan masyarakat menjadi poin terpenting untuk dipelajari agar terealisasikan tujuan yang telah ditetapkan.
Pemahaman akan realitas kehidupan masyarakat akan mendorong untuk penyusunan kurikulum yang menunjang kesiapan para santri dalam berkontribusi sosial. DR. Addamadasy Sarhan dan DR. Munir Kamil (dalam Rosyadi, 2009), mendefinisikan kurikulum sebagai sejumlah pengalaman-pengalaman pendidikan, budaya, sosial, olah raga dan seni yang disediakan oleh sekolah bagi anak didiknya di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang secara menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan. Dengan demikian penyusunan kurikulum berarti untuk memenuhi tujuan pendidikan yang dikehendaki. Di sisi lain, kurikulum juga sebagai instrument atau jembatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Assegaf (2007), menyatakan bahwa kurikulum dalam pesantren pada awalnya adalah 100% bermuatan materi agama. Oleh karena itu pengembangan kurikulum yang menunjang ketrampilan para santri menjadi terobosan baru dalam mendidik tunas –tunas masyarakat yang berakhlak mulia karena pengetahuan agamanya dan berkualitas serta produkstif karena pendidikan ketrampilannya. Feisal (1995), mengemukakan bahwa pendidikan ketrampilan merupakan bagian dari komponen pendidikan nasional yang mempunyai tujuan untuk mengembangkan watak dan menggunakan teknologi sedini mungkin. Feisal menambahkan bahwa pendidikan ketrampilan terdiri atas dua golongan yaitu golongan ketrampilan dasar dan golongan ketrampilan pasar.
Subtansi pendidikan ketrampilan disesuaikan dengan keadaan lingkungan, khususnya di daerah-daerah lingkungan sekitar pesantren atau di pedesaan dengan latar belakang kebudayaan yang beraneka ragam. Adapun contoh dari pendidikan ketrampilan dasar yaitu lebih cenderung pada keterampilan teknik misalnya, pendidikan tentang servis barang-barang elektronik, pengetahuan tentang lobying dalam menawarkan barang, pelatihan mencukur rambut, dan menulis. Sedangkan pendidikan ketrampilan pasar dapat dicontohkan seperti, menjahit, bercocok tanam, memanfaatkan barang bekas menjadi barang yang punya nilai jual tinggi, membuat makanan dan pemberdayaan hewan atau tumbuhan. Di sisi lain, pembakuan pendidikan ketrampilan harus juga dilakukan untuk sertifikasi. Adapun pembakuan dapat dilakukan dengan sistem magang selama satu atau dua bulan pada lembaga masyarakat atau pun lembaga yang menunjang pengetahuan ketrampilannya.
Pengetahuan keterampilan bagi santri merupakan ilmu bekal untuk mengembangkan hidupnya di masa yang akan datang. Kemampuannya dalam menulis mendidik mereka untuk menjadi penulis yang bergerak dalam bidang jurnalistik. Hal ini sebagai reaksi untuk mengimbangi informasi-informasi yang kurang bermanfaat di era globalisasi. Ketrampilan pengolahan tanah, pemanfatan barang limbah dan pemberdayaan tanaman obat memberikan pencerahan bagi masyarakat yang selama ini menanti pekerjaan. Sedangkan ketrampilan menjahit dan membatik memberikan peluang bagi generasi muda yang putus sekolah untuk berkreasi sehingga kecemasan untuk menganggur berkurang.
Pengetahuan ketrampilan para santri yang telah mereka pelajari dari pesantren maupun sistem magang, hendaknya disosialisaikan kepada masyarakat melalui program pemberdayaan skill santri untuk umat. Program tersebut dapat dilakukan dengan sosialisasi pelatihan kepada masyarakat selama tiga hari. Sosialisasi ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat yang kurang pengetahuannya dan sekaligus mempererat kedekatan pesantren kepada masyarakat.
Kedekatan pesantren dengan masyarakat memberikan peluang akan terciptanya kehidupan yang dinamis. Hal ini bisa dapat dimulai dari pengoptimalan kembali masjid sekitar lingkungan pesantren sebagai pembinaan masyarakat oleh orang-orang pesantren. Masjid akan difungsikan tidak hanya sebagai tempat ritual ibadah sholat semata, akan tetapi masjid dapat dimanfaatkan untuk pengkajian tentang hal-hal yang bersifat pembangunan kualitas perekonomian masyarakat. Misalnya, sistem pengajian di masjid tidak hanya monoton membahas tentang ibadah bersifat fikhiyah semata. Akan tetapi dapat disajikan beberapa materi diantaranya adalah tentang kemandirian bisnis dengan pengolahan limbah sampah menjadi barang bernilai jual tinggi, pemanfaatan barang alam menjadi barang siap pakai misalkan enceng gondok menjadi tas,tikar,dompet dan lain-lain, pengkajian tentang sistem pengolahan tanah pertanian yang baik dan sebagainya.
Dalam hubungannya dengan masyarakat, para santri berperan untuk memberikan penyuluhan dan pelatihan. Sedangkan Peran para ustadz di sesuaikan dengan tingkat simpati dan seberapa besar pengaruhnya terhadap masyarakat. Oleh sebab itu, ustadz lebih baiknya difungsikan sebagai pembina dan penghubung kepada masyarakat. Di sisi lain, pihak pesantren juga mendirikan lembaga sosial yang membantu menunjang perekonomian masyarakat dan menjaga kebersihan lingkungan misalnya, mendirikan bank sampah yang berfungsi untuk menampung sampah-sampah di lingkungan masyarakat sehingga sampah tersebut dapat didaur ulang menjadi barang yang mempunyai harga jual.
 Dengan demikian pesantren dapat membangun hubungan yang dekat dengan masyarakat. Masyarakat akan semakin cerdas dan mandiri bersama dengan masyarakat pesantren. Selanjutnya masyarakat pun akan mampu memanfaatkan sumber daya alam secara efisien berdasarkan pengetahuan dari para santri. Sehingga memberikan kesanggupan untuk bertahan dan tidak terlalu menggantungkan pada teknologi maju yang padat energy. Demikian juga para santri akan merasa bahagia karena bisa membantu dan sekaligus memiliki pengembangan pengetahuan tentang ketrampilan yang lebih. Hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme itulah yang akan mencermin kehidupan masyarakat yang memiliki mental sebagai masyarakat madani dengan pola hidup kasih sayang (arrahmah).
Muhammad Naquib al-attas (dalamSanaky, 2003), mengatakan bahwa masyarakat madani merupakan masyarakat yang mempunyai dua pengertian yaitu masyarakat yang mencerminkan kehidupan kota dan masyarakat yang penuh dengan peradaban. Sebagai masyarakat yang telah terkena pengaruh kehidupan pesantren, tentu kehidupan masyarakat akan menjadi beradab dan bermental masyarakat kota yang artinya mampu berpikir produktif. Oleh karena itu, kehidupan nuansa islami akan terasa dan eksistensi pesantren akan tetap terus terjaga sepanjang masa. Dalam tataran yang lebih luas, masyarakat madani tersebut akan menjadikan kehidupan bangsa yang secara nash dalam hadist disebutkan sebagai “Bal datun thayyibatun wa Rabbun Ghofur”(Negara yang baik dan penuh pengampunan Tuhan)
B.     Kesimpulan.
Persaingan yang sangat ketat dan hilangnya idealisme atau jati diri bangsa sendiri menjadi konsekuensi dari era globalisasi. Era globalisasi menuntut setiap masyarakat untuk memiliki percepatan dalam menjalankan hidupnya. Salah satunya adalah dalam bidang pendidikan. Pendidikan yang fokus utamanya melahirkan benih –benih karakter tangguh kini menjadi tergeserkan dengan tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup. Sehingga tidak bisa dinafikan banyak masyarakat terutama para orang tua memilih pendidikan yang lebih mempersiapkan anak didiknya pada kemampuan dalam menghadapi tantangan hidup.
Dampak terbesarnya adalah makin rendahnya minat  masyarakat pada pendidikan yang tidak sanggup menjawab atau mempersiapkan skill peserta didiknya. Hal ini tergambar dengan jelas pada pendidikan pesantren. Pesantren yang dahulu sebagai embrio pencerah kehidupan masyarakat, kini hanya banyak diminati oleh masyarakat yang pada umumnya memiliki kemampuan ekonomi rendah dan adanya perasaan kewajiban menanamkan pendidikan agama bagi anak didiknya.
Dengan demikian, dalam mengembalikan eksistensi peran pesantren dalam masyarakat di era globalisasi, hendaknya pesantren melakukan pengembangan diri melalui penerapan pendidikan ketrampilan, pengoptimalan fungsi masjid serta pemberdayaan masyarakat sekitar pesantren. Hal ini agar tercipta keharmonisasian dalam merealisasikan masyarakat madani yang memiliki sikap penuh kasih sayang (warrahmah).
C.    Solusi
Strategi pengembangan pesantren dalam memiliki nilai eksistensi di masyarakat adalah melalui reformulasi pendidikan pada pesantren. Adapun reformulasi dapat dilakukan melalui beberapa hal diantaranya adalah:
1.      Menata kembali menejemen pesantren dengan rapi melalui studi banding dengan pendidikan pesantren moderen yang telah memiliki nilai kepercayaan tinggi pada masyarakat.
2.      Mengembangkan gaya kepemimpinan ustadz dalam pembelajaran dan pendekatan kepada masyarakat.
3.      Menentukan tujuan institusional pesantren sesuai dengan tujuan pendidikan nasional sehingga mendapat pengakuan dari lembaga pemerintahan.
4.      Mengembangkan visi dan misi pesantren dengan mengikuti tuntutan zaman dengan tanpa menghilangkan nilai-nilai keagamaan yang menjadi ciri khas pesantren.
5.      Mengembangkan ketrampilan metode pembelajaran agar menarik minat belajar para santri.
6.      Menerapkan sistem pendidikan ketrampilan sebagai dasar skill para santri dalam menghadapi tuntutan zaman.
7.      Mengoptimalkan masjid sebagai pemberdayaan masyarakat dalam pengkajian agama dan ketrampilan hidup misalnya dengan mengadakan arisan perbulan dan pembagiannya dilakukan saat setelah sholat subuh agar dapat meramaikan sholat subuh secara berjama’ah.
8.      Mendirikan lembaga sosial yang dikelola oleh santri sebagai penyuluhan dan pelatihan ketrampilan pada masyarakat misalkan dengan mendirikan bank sampah.


Daftar Pustaka
Assegaf, Abdurrahman dan dkk. 2007. Pendidikan Islam di Indonesia.Yogyakarta.
Suka Press.
Baharuddin. 2009. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan.
 Yogyakarta: Ar-Ruzmedia.
Feisal, Jusuf Amir.1995. Reorientasi Pendidikan Islam. Jakarta. Gema Insani.
J Sudarminta, 1990. Filsafat Pendidikan. Cat 1, Yogyakarta, IKIP Sanata Dharma.
Rosyadi, Khoiron,2009. Pendidikan Profetik. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Suryanegara, Ahmad Mansur, 2010. API Sejarah. Cet III, Bandung. Salamadani.
Sanaky. 2003. Paradigma Pendidikan Islam. Jogja. Safiria Insania Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar