Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 06 Juni 2012

Kerikil yg Mengganjal

The Journey in Cannal--Cenduren Village
Selasa 1 mei 2010 ?? Yach,,itulah sebagian dari nama hari beserta kode planning kehidupan manusia. Aneka ekspresi setiap orang musti beraneka ragam. But That’s day  special for me. Why???karena ada beberapa hal yang bikin senam emosi hehe,, Pertama, waktu malam ada pertandingan bola dan club favorite ku Manchesetr Cty saat itu sedang bertanding melawan sang juara musim lalu yaitu Manchester United. Meski pertandingan ini jadwalnya tengah malam jam 1, tapi bagi saya, pokoknya harus nonton coz ini pertandingan yang sangat seruuu. J.Entah kesambet virus cinta apa saya hee,,sangking cintanya sama club itu, jadwal aktivitas malem saya atur dengan rapi, jam 21.00 pun saya jadwalkan untuk tidur dan malemnya jam 00.30 bangun. Eits,,kenapa harus bangun jam 00.30? hehee..sebagai manusia saya sadar bagaimana meletakkan rasa cinta terhadap hobi dengan kepada sang Khalik yaitu Allah. Kebutuhan kepada Allah lah yang pertama saya dahulukan. Coz ditengah malem itulah kemuliaan dan keagungan Allah akan terasa dekat saat kita curhat kepadaNya. Rasa syukur jika diucapkan dengan menghayati beberapa nikmat yang telah diberikan kepada kita saat malam hari, seolah memberikan kesadaraan dan perasaan malu berapa banyak nikmat yang telah kita shodaqohkan, padahal sering kali Allah memperingatkan kita “nikmat mana yang engkau dustakan?” dan dalam sindirannya di ayat lain juga disebutkan “amat sedikit orang-orang yang bersyukur”. “Duh Rabb yang menggenggam alam semesta ini ampunilah daku yang banyak lupa akan nikmat-Mu”.
Selesai bermunajat kepada Allah swt, saya pun menonton pertandingan yang sejak pagi saya rindukan. Pertandingan saat itu memang benar-benar seru dan akhirnya club favoritku pun menjadi pemenangnya meski hanya menang tipis 1-0. Tapi yang jelas club favoritku klasmennya mulai berada di puncak heee..seneng deh rasanya.. J. Senam emosi yang kedua adalah besok pagi jam 8 saya harus mempresentasikan hasil setengah dari call of research paper ku, perasaan senang dan cemas yang menyelimuti psikis saya. Senang karena setengah perjalanan lagi akan penelitian, dan cemas dengan perasaan deg-deg,,karena akan tampil di hadapan dosen. Tapi Alhamdulillah kecemasan itu bisa saya coping sendiri dengan berpikir positif, entah teori psikologi mana yang saya praktekan, bukan mekanisme pertahanan ala si freud yang saya gunakan, proyeksi tak menghadirkan ketenangan justru malah mendidik arogan meski obyeknya telah diarahkan, akomodasi pun demikian tak kunjung bisa diandalkan cos inilah pertanggung jawaban karya tulis bukan penyelesain konflik batin. Ah,,,yang jelas dalam hati bergumam tidak ridho saya memakai tawaran dari ilmu yang saya dapatkan, namun suara hati tiba-tiba menyela ditengah kegalaun pikiran,,yach,,dulu juga udah pernah presentasi di depan dosen-dosen UI terus kenapa harus cemas? Toh nanti itu juga dosen saya sendiri. Barangkali ini mirip terapi realitas yang pernah digaungkan oleh William Glasser. Terapi ini memang lebih focus pada realitas yang dihadapi dari pada terapi-terapi konvensional yang sebagian besar berlandaskan asumsi-asumsi keliru. Tapi sayang seribu sayang,,terapi realitas ini melupakan energy diluar kepribadian seseorang yaitu energy spiritual yang memasrahkan pada yang maha mengatur realitas. Dus  dengan berbekal sikap khusnudlon pada Allah swt saya pun berdo’a sebelum presentasi dimulai “ ya Rabb berilah daku kekuatan mental dan kefashihan lidah dalam menyampaikan sekelumit dari karya ini. Dan Alhamdulillah seketika itu perasaan menjadi mantap, kecemasan pun mulai turun intensitasnya. Barangkali itulah Allah swt memberikan rasa sakinah (ketenangan) dalam hati saya. Dan sungguh tawaran Allah swt tidak pernah diberikan kecuali dengan perasaan kehambaan kepada-Nya yang tinggi. Oleh karena itu Allah swt selalu menawarkan tawaran ini kepada manusia untuk menyelesaikan kesulitan hidupnya. Dalam bahasa yang sangat indah firman Allah swt berbunyi “ud unii astajib lakum(berdo’alah kalian semuanya niscaya akan saya kabulkan). Lantas kenapa manusia banyak yang melupakan tawaran ini? Hiii (intropeksi) J. Bukankah ini terapi psikologis yang sangat fundamental pengaruhnya?..heheJ
 Tawaran ketiga adalah ikut lomba menulis se jateng mewakili kampus di semarang. Tepat pukul 10.00 saya selesai presentasi kemudian melanjutkan cari kuliner buat ngisi energy, maklum sejak tadi pagi belum makan, dengan ditemani mas rahmat sama mas agung santapan soto pun menjadi sasaran kami bertiga. Tapi ah,,saat itu saya ga’ bisa menikmati suasana kebersamaan makan soto coz rasa kantuk saat itu benar-benar memang gak bisa di tahan. Semaleman lembur bola dan sejak subuh mempersiapkan presentasi membuat masakan soto didepan mata seolah tak punya rasa. Anehnya saat megang cendok pun sempet ngantuk untung aja mas rahmat langusung nepuk saya jadi gak keliatan orang klo sedang ngantuk heeeJ.
Saat alam pra sadar menguasai arus emosi, soto pun termakan sampai habis dengan tidak begitu menikmati. Saya pun pamit dengan mas agung dan mas rahmat untuk meninggalkan warung soto itu duluan, supaya bisa bergegas tidur di kamar kos. Sesampai di kos, seluruh tubuh pun saya rebahkan di atas kasur tanpa mempedulikaa entah pintu kamar sudah di kunci apa belom  yang jelas langsung tidur hehe.. Baru terasa 15 menit tidur, tiba-tiba hp pun bordering dengan nada rington,,asalamu’alaykum khas raihan team nasyid malasyia. Dengan setengah semangat saya pun mengangkatnya, ternyata telepon ini dari salah satu temen yang juga akan ikut lomba ke semarang. Beliau mengatakan “mas ayow udah ditunggu pak daliman nih,,Qt udah mw berangkat sekarang Cuma tinggal nunggu kamu.” Jleb,,suer,,kaget saya klo siang ini harus pergi ke semarang. Dengan selincah jurus tifan pochan heehee…J iat,,saya pun mulai mengemasi buku-buku dan barang bawaan yang harus disiapkan selama  3 hari di semarang. Setelah selesai dan dirasa lengkap semua saya pun dianter temen ke kampus untuk bertemu team.
 Saat dikampus,,waow ternyata saya udah gak asing lagi dengan temen-temen ini, mas agus dan  mbak khumaeda salma dari fai sedangkan saya dan mbak arini dari program twinning akan tetapi nama jurusan fai yang saya cantumkan coz biar serasi githu hhee.J. perjalanan ke semarang pun dimulai, meski masih terasa ngantuk tapi obrolan ta’aruf diantara kita di mobil menjadi suasana lebih hidup. Di sela-sela ta’aruf dan canda saya sedikit mencoba melihat-lihat barang bawaan di tas. Dan naïf,,,buku api sejarah karya pak M Surya Negara yang akan menjadi sumber refrensi utama saya ketinggalan di kos,,,ya salaam..ya salam.. L jadi saya hanya bawa tiga buku. Duh kurang refrensi nanti pasti pikirku dalam bis. Tapi no problem aja,,insyaAllah bisa menghasilkan karya.
Tepat pukul 17.00 kami pun sampai tempat penginapan dan kemudian menyelesaikan berbagai macam administrasi. Setelah semua administrasi lengkap saya pun dapat nama kamar Shafa. Ah pasti nyaman nanti di dalam kamar candaku dengan salah seorang teman. Ternyata memang benar tempatnya bagus dan kueren untuk menginap selama 3 hari heee.. J.pa lagi dengan menu makanan yang serba berbagai macam pilihan wah tambah bentah pokoknya heeJ.
Di dalam kamar pun saya mulai merancang karya tulis yang akan saya sajikan besok pagi, berbagai macam buku yang saya bawa pun saya bolak-balik untuk menemukan ide inspiratif yang bisa membuat banyak orang kecanduan membacanya, tapi naïf lagi,,ngantuk pun menjadi musuh utama yang berhasil meluluhkan semangat saya tadi ya salam,,,ya salam…L.
So ketika pagi harinya saat perlombaan dimulai, saya pun berambisi untuk menjadi pemenang agar uangnya dapat saya gunakan untuk kesenangan. Suara ruangan perlombaan pun begitu sangat gemuruh sekali, maklum ngetik tulisannya pakai mesin ketik jadi bunyi tuak,,tok,,,tuak,,tok seolah mejadi seni alunan musik. Saya sendiri pun baru pertama kali memakai dan menggunakan mesin ketik jadi wajar kalo ngetiknya gak karuan heeeJ.
Tema yang diangkat dalam perlombaan saat itu adalah islam dan masyarakat Indonesia. Nah saya pun dengan PDnya menulis dg judul “Representasi sejarah islam dalam pembangunan masyarakat Indonesia yang Madani” . selesai menulis pun saya merasa yakin bahwa karya saya akan lolos sebegai pemenang cos hadiah yang ditawarkan tidak tanggung-tanggung jutaaan lho.. J .
Waktu malam pun sudah mulai menutup segala aktivitas manusia. Tidur menjadi pilihan utama untuk mencharger energy yang seharian terkuras oleh berbagai katifitas. Nah,, di saat tidur inilah saya bermimpi ketemu ibu saya dan dia bilang, nang uang hadiahnya harus dibagi-bagi bukan untuk kamu aja terus, masih ada orang lain yang membutuhkan”. Ciah,,kaget saya dengan mimpi itu, sehingga terbangun, lantas sejenak berpikir, apakah teori mimpi si freud bisa dibenarkan, kata si freud mimpi merupakan hasil dari keinginan yang tersimpan dalam symptom kepala orang dan mimpi merupakan ekspresi dari keinginan itu. Tapi mengapa, di saat symptom dalam otak saya menginginkan kemenangan justru saya malah bermimpi yang menuntun sy untuk bersikap mengalah dan sabar. Ah,,,teori freud mana bukti ilmiahmu..????? Rasa nya ingin ngajak diskusi dengan bapak yang selalu tersohor bagi anak2 fakultas psikologi.
Tepat pukul 08.00 pengumuman lomba menulis pun di umumkan dan…. dan,,, pada akhirnya saya pun kalah dalam perlombaan ini,,iah,,iah,,,iahh,,kenapa kalah???, sy pun sedikit lemas, tapi entah kenapa mbak khumaida salma dan mbak arini terlihat santai dan sering ngajak canda padahal dia juga kalah..ah,,rasanya ingin bertanya apa resepnya untuk bisa enjoy?.tapi gak lah kurang etis coz dia kan akhwat masak harus curhat ke yang bukan muhrim heeeJ begitu gumamku.
Setiap kegagalan memang mesti di intropeksi hingga ada hikmah yang ternilai. Dalam hati pun saya bertanya-tanya? Layaknya ayu ting ting yang bertanya alamat palsu di mana…di mana..di mana..? so weet lah,,hee saya lebih bertanya kenapa..?dan kenapa..?,,iah,,saya tw jawabannya ternyata ada bibit kesombongan dan niat salah meski itu terlalu kecil. Saya sedikit merasa sombong untuk pasti menang dan niat salah karena berpikir uang hadiah akan digunakan untuk kesenangan. Itulah virus yang mendidik saya bagai krikil yg mengganjal perjalanan yg mulus. Dalam hati seolah ingin memarahi Maslow sang tokoh humanistic yang mengatakan bawah aktualisasi diri seseorang adalah yang menentukan tingkat eksistensi orang dalam masyarakat. Tapi mana buktinya???aktualisasi tidak menjamin kebahagiaan serta aktualisasi hanya mendidik orang untuk berkesempatan memiliki karakter sombong…yach..lebih baik kembali mendalami ilmu islam agar bisa menjadi pribadi yang tawadhu’. Teringat saya kalimat dari pak yusuf mansyur bahwa kebahagiaan dapat di rasakan sejauh mana kita cukup pada kebutuhan dan  tidak memaksakan keinginan. J. Aiwa,,I Agree with this statement ..and InsyaAllah, masih ada jalan lagi yang lebih baik.. insyaAllah,,insyaAllah show me the way,,,(begitu kata bang maher zain).J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar