Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sabtu, 02 Juni 2012

DoN’t sTtoP HerE !!!

Berawal dari ucapan seorang teman “akhi antum ikut pelatihan menulis bahkan menjadi panitia dalam acara pelatihan menulis akan tetapi klo gak pernah sama sekali menjatuhkan tinta dari hasil pikiran antum ya,,percuma saja. Ilmu yang antum dapatkan gak ada manfaatnya”. Jleb…bagaikan pisau yang membelah buah semangka, kaget dan menjadi bepikir saya. Iya benar juga ya,,,kenapa saya selalu ikut pelatihan menulis tapi gak pernah saya sekali menulis..ah,,bikin umur saya terbuang sia-sia..begitu gumamku. Dengan semangat untuk perbuahan, saya pun mulai pergi ke gramedia untuk melihat hasil karya buku-buku para penulis. Sampek di gramedia saya pun melihat ratusan buku-buku yang tersebar. Orang-orang banyak menikmati bacaan buku tersebut. saya sendiri pun bingung karena judul buku-buku yang dijual sangat beranek ragam. Ada buku kuhusus pendidikan, novel, bacaan ringan yang jelas banyak deh,,bikin kepala ini bingung mau baca yang mana. Hee..J. Karena memang niat pertama ke gramedia Cuma pengen lihat-lihat buku.

Rentetan rak-rak buku pun telah saya kelilingi sampek-sampek pak satpam seperti mulai curiga dengan sikap saya yang bolak-balik dari sudut satu ke sudut yang lain. Ya salam..memang tampangnya seperti ma- li-ng, ya,,? Hee (moga aja tidak) JTapi no problem ah,,saya kesini kan memang pengen lihat-lihat buku, asal tidak mencuri saja..hehe begitu gumam ku dalam hati. Setelah hamper satu jam saya mutar-muter, akhirnya saya pun tertarik dengan satu buku.. Buku itu bersampul warna merah polos dan gambar orang menulis. Sekilas dari sampulnya buku itu memang tidak menarik orang sih,, bahkan terkesan buku jadul alias buku lama hoo..belum lagi kertas di dalamnya pake’ kertas warna kuning,,yach,,bikin orang gak semangat baca. Hee..:). Tapi entah mengapa seolah ada perasaan cinta yang tumbuh dari diri saya sehingga ada motivasi untuk mendekatinya. Eits..bukan mendekati perempuan lho ya,,,J tapi buku bersampul merah yang polos dengan gambar orang menulis itu. Buku itu berjudul AKU BISA MENULIS,,karya pak didil komaedi.
Terasa sudah sangat capek mutar-muter, dan tanpa pikir panjang buku itu pun saya ambil untuk dibawa ke kasir. Begitu sampek kasir, jleb,,harga bukunya ternyata Rp 45000 sedangkan uang disaku Cuma Rp50.000 ribu,,yach hanya kembali Rp.5000. belum nanti untuk parker Rp1000. Ya sudahlah,,masih untung ada Rp4000 buat beli makan di warung angkringan pinggir jalan hee.. J. Perut kenyang perasaan pun senang karena dapet buku bagus..
Sesampek di kos,,plastik pembungkus buku itu pun saya robek krek,,krek. Sembari tidur-tiduran di kasur sambil baca-baca bukunya,,eealah,,malah ketiduran ya salam,,ya salam…J. Barang kali temen-temen juga githu kan? Heee hayo ngaku aja.. J coz virus baca itu salah satu efek sampingnya  bikin mata cepat terlelap dalam tidur lho,,sepakat!! J.
Nah,,yang uniknya nih,,hamper setiap saya klo pergi aktivitas organisasi, buku itu g’ pernah ketinggalan. Sehingga dalam beberapa hari habis sudahlah isi buku itu saya lahap . Tapi untuk aktionya belum juga ada hee,,ilmu yang saya dapatkan dari baca itu seolah hanya mutiara yang saya amankan dari tangan-tangan penjahat. Tapi betulkan? Ilmu adalah mutiara, hhee tapi klo mutiara itu tidak pernah disentuh lama-lama tertutup oleh debu sehingga kemilaunya tertutupi meski tidak mengurangi harga jual mutiara itu. Begitu juga dengan ilmu, jika gak pernah di asah terus apa lagi di amalkan, lama-lama ilmu itu akan tertutupi oleh informasi-informasi yang lain dampak terbesarnya adalah lupa L.
Tapi Alhamdulillah sikap seperti itu cepet hilang sesaat selesai kuliah di fai saya melihat ada pengumuman informasi tentang lomba menulis karya ilmiah di UIN Jakarta.  Tanpa pikir panjang saya pun langsung tancap gas motor untuk menuju ke kos. Sembari cari-cari ide di perjalanan saya pun dapet ide bagus ‘Aha”?,, menulis tentang Co Parenting Poligami, ide itu muncul coz dari kampus tadi sempet sedikit diskusi tengtang poligami. Sesampai di kos pun segera dengan semangat badar leptop pun di hidupkan dengan beberapa buku yang akan dijadikan rujukan.
    Ketika windows Microsoft office udah terbuka, jari jemari pun tiba-tiba berhenti dan kepala pun seolah habis muter 10kali bingung bagaimana sih memulai menulis. Semangat badar yang tadi muncul seolah tergantikan dengan semangat pahlwan uhud yang kekal karena rakus akan harta rampasan hiiiL. Begitu juga dengan setumpuk ide yang tadinya menari-menari bagai rerumputan tersemilir oleh angin, tiba-tiba diam seolah semilir angin itu terpause. Ah,,mengawali untuk menulis ternyata sangat suliiiiiiiiit lebih sulit dari soal kimia yang pernah diajarkan saat kelas 1 SMA. Tapi masih untung ada sedikit energy rasa penasaran untuk membuka buku tentang menulis yang saya beli dari gramedia dulu..
Perlahan saya buka-buka buku itu kembali, sembari membaca dan berpikir kutemukan sedikit-demi sedikit energy untuk menulis kembali. Lepotop yang sudah hidup di depan mata bagai medan pertempuran yang menuntut pelakunya untuk maju atau mundur menyerah. Eiat,,masak menulis aja kok g’ bisa, begitulah kalimat pertama yang muncul dari mulut saya ketika mau menulis. Saya pun berkeyakinan bahwa menulis pasti mudah dan bisa diselesaikan. Asalkan mempunyai azam (tekad yang kuat untuk menyelesaikannya). Dan,,,dus,,teringat juga dalam lintasan pikiran saya dalam pelatihan-pelatihan menulis. Para trainer sering menyarankan “tulislah apa yang ada dalam benak kamu, yang penting tulis dan tulis jangan kalian hiraukan baik dan buruknya tulisan kamu. Tulis, tulis dan tulislah seperti aliran air yang mengalir dari imajinasimu”. Ciah,,,semangat menulis pun kembali tercharger dengan penuh.
Alunan langkah untuk ke perpus ubeg-ubeg (cari-cari) buku tak mengenal lelah hoooJ. Bagai ulama yang haus akan ilmu dan berkarya (amien ya Rabb) J. Setelah sekian lama menyusun amunisi dan banyak diskusi, jreng,,terbentuklah tulisan pertama saya dengan judul “Coparenting Poligami dalam Prespektif Psikologi Islami). Suer,,seneng rasanya lihat karya sendiri. Tak disangka mampu menyelesaikan karya tulis itu dengan mandiri. Merasa udah cukup bagus karyanya, saya pun mulai mengirimkan ke panitia lomba di UIN Jakarta.
Beribu harapan agar tulisan itu lolos pun selalu terucap di saat berdo’a. karena jika melihat hadiah yang ditawarkan begitu besar..juara ke-1 hadiahnya Rp5000.000 juara ke dua Rp 3000.000. juara ke tiga Rp 35.00.000 sedangkan juara ke-4 samapai ke-10 hadiahnyanya Rp2000.000.maklum perlombaan itu adalah untuk memperingati haru ulang tahun UIN Syarif hidayatullah.
Setelah beberapa minggu menunggu pengumuman, psikologis pribadi pun mulai merasakan getaran, entah itu menang ato kalah yang jelas,,getaran psikologis itu terasa deg—deg—pikiran mulai berandai-andai jadi pemenang dan tangan pun gak sabar baca pengumuman. Yach dengan meminjam leptop temen, saya pun mulai menerawang dan,,,dan,,,dan,,,,akhirnya nama saya di nomer urut ke dua, wuaaaaaaaaaaaaaaaaah,,,,aku menang,,,dapat uang jutaaan,,begitulah ekspresi emosi yang lama terpendam, saya pun merasakan kebahagiaan yang tidak pernah saya rasakan. Kebahagiaan yang melebihi saat saya lulus dari ujian UAN.
Di saat efuoria dengan pengumuman tersebut, salah satu temen saya bilang,,dho,,kamu gak jadi juara ke dua tapi Cuma jadi juara ke dua harapan,,,Jleb,,,ya,,,salaaaaaaaaaaam..seketika itu arus emosi yang tadinya naik 100% ealah,,turun menjadi -1%. Lemas,,seolah baru lari ribuan kilometer, tapi tak mengapa kata salah seorang temen, Don’T StoP Here !! akh,,dari puluhan karya kamu nomer ke dua meski itu juara harapan. Dan yang terpenting kamu dapat hadiah buku serta karya kamu juga diterbitkan sama dengan yang lolos perlombaan yaitu nomer 1 sampek 10..
Makasih temen, suara lirih yang keluar dari suara hati. Sesampainya di kos saya pun mencoba lagi untuk intropeksi, “ya memang barang kali ini bukanlah rizky saya untuk menjadi juara tapi yang paling terpenting adalah hasil karya pertama bisa lolos untuk di publikasikan dan bisa di baca oleh orang lain, bukankah begitu niat awal rid,, yaitu untuk mengamalkan ilmumu lewat karya tulis...sedikit kalimat intropeksi yang kembali mencharger jiwa yg mudah luluh dengan sedikit cobaan. Teringat saya dalam surat al-qur’an yang pertama kali diturunkan adalah Iqra’. Jadi perintah membaca menjadi modal utama untuk bisa berhasil menulis.
Nah,,begitulah totalitas energy yang keluar dari intropeksi. Jadi intinya adalah setiap kegagalan yang kita alamai pasti ada hikmah yang besar, Allah menyadarkan hambanya untuk menggali dan belajar atas kegagalan. Inget Allah tidak tidur selama kita usaha pasti ada keberhasilan yang mengiringinya. Karena beban hidup seseorang pastinya tidak di luar batas kemampuannya.
Hari-hari berikutnya hasil intropeksi pun menjadi panduan kesuksesan, dan menulis menjadi sebuah kebiasaan. Hamper setiap bulan selalu mencari informasi lomba-lomba tentang kepenulisan. Teringat beberapa ucapan dari orang-orang terdekat, yang pertama adalah ayah “ bahwa hasil kerja dari otak lebih besar hasilnya dari pada hasil dari kerja otot”. Saudara, dek rid,,coba carilah risky lewat menulis dengan cara mencari informasi setiap bula. Antum pasti bisa coz kak itu dulu sering. Nyes…lega dan adem perasaan dalam hati saat mencoba merecall memory manis dari orang-orang terdekat membuat hidup semakin bergairah dan dinamis. Maka tak salah jika islam selalu memerintahkan umatnya untuk selalu menyambung silaturhami.
Berbagai informasi perlombaan pun saya ikuti dari solo hingga luar solo. Dan Alhamdulillah berbagai macam karya lolos untuk menjadi juara..di Undip: “Co parenting Modelling sebagai pembentukan kepribadian anak sholeh” juara tiga. Di UNS “Proyek keluarga islami”juara ke satu. Di UNS “perempuan antara tuntutan nilai-nilai modernitas dan nilai-nilai islam.”juara satu. Di Unibraw “Mengkristalkan karakter perempuan dengan ketakwaan”juara satu. Piala wali kota Surakarta. “implementasi jihad inteletual dalam menjawab kebebasan informasi di era globalisasi. Juara ke tiga. Etc. dan masih banyak lagi karya-karya yang menjadi juara serta lolos dalam pembukuan bersama.
Ah,,beginilah Allah mendidik hambanya untuk terus bersabar dan mengerti makn perjuangan dalam kehidupan. tak ada kata mustahil selagi masih ada proses yang bisa dilakukan. Sabar dan intropeksi menjadi senjata dalam dinamika perjuangan. J Allahuma barik lana wa fahimna bil ilmi wa razaqna rizqan khalalan tayiban wa zawajana ma’aa niasu’ saholihat.. J
Bersambung….masih ada cerita tentang gegagalan. J   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar