Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 16 April 2012

Spirit Al-Maun dalam Membendung Tantangan Kapitalisme

Dunia globalisasi telah memberikan tantangan yang sangat berat bagi mereka yang tidak memiliki mental yang kuat. Persaingan perekonomian dunia kini pun seolah-olah kembali pada hukum rimba, yang kuat yang menang dan yang lemah harus mengalah. Tergambar dengan jelas saat ini kehidupan penuh dengan prinsip kapitalis. Sebagaimana yang dikatakan oleh fukuyama (dalam Yadi Purwanto, 2007) dalam “the end of history”bahwa dia mengatakan, kapitalisme akan keluar sebagai pemenang. Era ini adalah era dimana semua dimaknakan dengan serba “uang” [1]. Dengan demikian penghargaan nilai dalam kapitalisme yang terbesar bagi setiap orang adalah seberapa besar nominal uang yang mereka terima. Oleh karena itu tidak heran, prinsip kapitaslisme mendidik masyarakat yang lemah bermental pasrahisme (nrimo mentality) jika diistilahkan dengan bahasa pak Reza M. Syarif dalam bukunya life Excellent.
         Prinsip pasrahisme (nrimo mentality) yaitu prinsip mentalitas menerima apa adanya. Prinsip  inilah yang tiap tahunnya banyak melahirkan orang  menggantungkan hidupnya pada gelar ijazah untuk meraih pekerjaan. Dengan kata lain prinsip untuk berkreatifitas dan mandiri untuk berbuat lebih menjadi terhenti, yang penting ada gelar ijazah dan dapat upah. Sedangkan bagi mereka yang tidak punya gelar ijazah dan tidak kuat menghadapi arus tantangan hidup, maka kriminalitas dianggap menjadi solusi untuk mengisi perut yang lapar. Alhasil, segala cara dan sarana digunakan untuk meraih tujuan hidup, yang halal menjadi haram dan haram menjadi terabaikan. Konsekuensi terbesar adalah keimanan mudah tergadaikan, kemiskinan semakin meningkat, pengangguran tiap tahun menjadi bertambah, dan kejahatan bermotif ekonomi menjadi tradisi.
          Jauh sebelum kapitalisme mengedalikan perekonomian dunia, islam mengajarkan kepada   umat manusia untuk mencari rizky di belahan dunia manapun. Dicontohkannya figur seorang entrepreneurship sejati yaitu Muhammad saw yang penuh dermawan dan kemudian diikuti oleh para sahabat-sahabatnya. Kesuksesan perekonomian mereka salah satunya terletak pada spiritnya berdagang untuk menjadi seorang pengusaha. Barangkali inilah energi spirit produk amal dari ajaran islam yang memerintahkan umatnya untuk mencari karunia Allah swt di belahan bumi manapun. Secara nash Al-Qur’an banyak menyebutkan, salah satunya adalah “Dia yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizkinya”[2].
         Islam memberikan kehormatan dan kemulaian yang besar bagi mereka yang memiliki motivasi menjadi pengusaha dari pada penguasa. Motivasi menjadi penguasa selalu diikuti dengan kehinaan. Perhatikanlah potongan hadist nabi, Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya engkau sekalian akan rakus terhadap kekuasaan padahal ia akan menjadi penyesalan di hari kiamat[3]. Sedangkan untuk menempuh motivasi menjadi seorang pengusaha telah diberikan oleh islam dengan penuh kehormatan. Misalnya, diajarkan motivasi untuk bisa beribadah haji, bershodaqoh sebagai pelipat ganda kebaikan dan zakat sebagai pensuci harta pendapatan. Oleh karena itu pengusaha merupakan cermin bagi pribadi yang merdeka. Merdeka bagi seorang pengusaha muslim yaitu bukanlah bersifat individualistik akan tetapi mampu memberikan kemanfaatan dan kemajuan bagi seluruh umat manusia terutama islam.
         Jika dianalogikan, seorang pengusaha muslim itu laksana lebah, mengabdi tidak mengharap kembali, dan tidak juga takut dicaci. Selalu memberikan manfaat bagi setiap orang yang dikunjungi. Niat utama adalah demi maslahah umah (kemanfaatan umat) sedangkan maisyah (penghidupan) biarlah Allah yang punya kuasa untuk mengatur dan mendistribukannya. Madu yang manis adalah hasil produk  olahannya yang tidak sekedar dikonsumsi namun juga multifungsi. Sedangkan ukiran karya dibalik sarangnya tidak sekedar berbentuk hexagon saja, namun menjadi bukti kedisiplinan, sistematika kerja dan mampu memberikan konstruksi dakwah yang jelas. Pengusaha muslim juga bukanlah sekedar inang yang mencari sukses secara pribadi seperti ajaran kapitalis, akan tetapi mempunyai motivasi untuk memberi kemaslahatan sebanyak-banyaknya bagi umat dengan diiringi visi yang jelas dan penuh inspirasi.

         Para pengusaha selalu berurusan langsung dengan kebutuhan hidup manusia. Sedangkan kebutuhan hidup manusia yang paling utama adalah kebutuhan pangan untuk mempertahankan hidup. Allah swt telah mendahulukan kebutuhan pangan pada urutan pertama dalam surat quraisy “yang telah memberikan makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar”[4]. Perasaan lapar inilah, jika tidak diatasi oleh mereka yang mampu memberikan manfaat kepada orang lain, maka bisa mengakibatkan keimanan mereka tergadaikan. Dengan kata lain perekonomian kapitalis menjadi tumbuh subur dan kristenisasi menjadi terbuka luas. Karena kefakiran ataupun kemiskinan sangat dekat dengan kekafiran. Sebagaimana Rasulullah saw mengajarkan do’a kepada kita “Ya Rabb jauhkanlah kami dari kekufuran dan kefakiran dan jauhkanlah kami dari sika kubur”. Akan tetapi sebaliknya jika kontribusi para pengusaha dapat dirasakan oleh umat, maka keimanan umat islam bisa terselamatkan. Sebagaimana para pengusaha muslim dahulu mendermawakan hartanya untuk orang lain.
          Seorang pengusaha muslim seharusnya memiliki nilai lebih dibandingkan dengan pengusaha di luar islam. Prinsip “tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah” hendaknya menjadi motivasi kedermawanannya dalam merealisasikan spirit surat al-ma’un. Energi spirit yang terpancarkan dalam surat al-maun diantarannya adalah mendidik seorang pengusaha muslim untuk selalu beristiqomah dalam kebaikan yang bernilai ibadah, inilah yang disebut sebagai pribadi yang mampu memenuhi komitmen (aufa bil uqud) terhadap agamanya. Selalu memberdayakan orang-orang lemah terutama anak yatim untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas melalui jalur pendidikan maupun pelatihan. Selalu memiliki jiwa pemberi dan penyantun orang-orang miskin melalui shodaqoh maupun zakat. Dua sikap diatas yaitu pemberdayaan anak yatim dan penyantun orang miskin merupakan wujud cermin pribadi pengusaha muslim yang memiliki spirit Anshorullah (bersedia membantu karena Allah). Sedangkan energi spirit dalam surat al-maun yang terakhir adalah selalu memiliki etos kerja yang tinggi (Himmatul Amal) karena ibadah dan bukan etos kerja yang dibangun karena sebuah penghargaan ataupun sanjungan. Karena etos kerja yang dibangun diatas sanjungan atapun penghargaan orang lain cenderung menghasilkan kualitas kerja yang lemah dan tidak bisa komitmen.
          Spirit al-maun di atas akan memberikan cermin pribadi seorang pengusaha muslim yang amanah (dapat mudah dipercaya) dimata orang lain. Dengan demikian banyak orang yang akan menyukai kepribadiannya dan merasa nyaman jika bersamanya sebagaimana para pengusaha islam dahulu mengajak masyarakat Indonesia untuk memeluk agama islam. Kemuliaan peranannya dalam memberdayakan umat muslim merupakan jabaran dari sifat ta’waun (tolong menolong) sebagaimana secara nash telah diperintahkan “dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan janganlah kamu tolong menolong dalam permusuhan”. Sikap seperti itulah bagian dari implementasi kerahmatan islam untuk mengurangi tingkat kemiskinan. Oleh sebab itu peran dan kualitas pengusaha muslim yang baik akan mampu menjawab tantangan perkonomian kapitalisme. Karena kesejahteraan masyarakat miskin akan terpenuhi, kedermawanan pengusaha menjadi banyak disegani, sholeh dan mushlih (bermanfaat untuk orang lain) menjadi gambaran pribadi. Oleh karena itulah Rasul Muhammad saw menyanjungnya “khoironnas anfauhum linnas” (sebaik-baik manusia adalah orang yang bisa memberi manfaat pada orang lain).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar