Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 17 April 2012

Proyek peradaban keluarga Islami


Keluarga merupakan kelompok terkecil dalam sebuah struktur sosial, namun berperan penting sebagai pilar utama dalam mengokohkan bangunan masyarakat. Dalam tataran makro sosial, keluarga sangat menentukan baik buruknya peradaban suatu bangsa. Ia sebagai lingkungan pertama dan utama dalam menginternalisasikan nilai-nilai kebajikan pada anak untuk menyambut masa depan. Jika proses internalisasi nilai-nilai dalam keluarga berjalan dengan baik, maka akan terlahir generasi cemerlang yang beradab. Sebaliknya, jika proses internalisasi tersebut gagal, maka akan muncul generasi buruk, tak berkualitas. Dan pada akhirnya, tingkat kebahagiaan dalam lingkungan keluarga menjadi rendah.
Di era globalisasi seperti saat ini, kebahagiaan keluarga menjadi sesuatu yang mahal harganya. Krisis multidimensi menuntut para orang tua untuk selalu berjuang menghadapi beban hidup yang kian menghimpit. Banyak orang tua yang lupa akan tujuan utama dalam membina rumah tangga. Peran seorang istri yang seharusnya memberikan kasih sayang kepada anak dan suami, semakin terabaikan oleh karir. Sedangkan peran seorang ayah sebagai pemberi perhatian dan  dukungan kepada istri dan anaknya, menjadi terlupakan oleh kesibukan di luar rumah. Tuntutan kebutuhan hidup modern yang meningkat pesat mengubah peran-peran strategis keluarga yang semestinya dijalankan. Tidak heran, kaum perempuan atau istri –misalnya-- turut berlomba-lomba dengan suami untuk mendapatkan kemajuan di segala bidang. Akibatnya, peran dan tugas utama para orang tua dalam mendidik anak sebagai tunas perubahan masyarakat terabaikan.
Dalam perspektif Islam, anak merupakan aset termahal bagi kedua orang tua, baik di dunia maupun di akhirat. Kehadirannya di dunia memberikan ketentraman bagi keluarga. Dan ketika telah dewasa, perannya sangat ditunggu oleh masyarakat untuk meneruskan keberlangsungan tatanan sosial. Oleh karena itu, proses penyemaian nilai-nilai positif bagi benih-benih calon penerus masyarakat menjadi tugas utama orang tua; ayah dan ibu. Bersandar pada tujuan berumah tangga, yaitu mencapai keharmonisan dan ketentraman keluarga, maka kerjasama (ta’awun) --dalam ilmu psikologi dikenal dengan co-parenting—guna menumbuhkembangkan kepribadian dan karakter anak yang saleh, menjadi prinsip utama untuk membangun keluarga islami yang berperan baik di masyarakat.

Rumah tangga islami adalah rumah tangga yang menerapkan norma-norma Islam di dalamnya, baik secara individu maupun sosial. Konsep ibadah melandasi bangunan besar bernama rumah tangga islami tersebut. Di dalamnya, para penghuninya bertemu, berkumpul, dan bersatu karena Allah. Menurut ensiklopedi nasional jilid ke 14, yang dimaksud dengan Rumah adalah tempat tinggal, bangunan untuk tinggal manusia. Dalam terminologi arab, kata rumah (al-bait) dalam Al-Qamus Al-Muhith bermakna kemuliaan, istana, keluarga seseorang, atau kasur untuk tidur. Bisa pula bermakna menikahkan, atau bermakna orang yang mulia. Dari pengertian tersebut, rumah memiliki konotasi tempat kemuliaan, sebuah istana, serta adanya suasana kekeluargaan.
Sebuah keluarga ibarat seekor burung yang sedang terbang dengan kedua sayapnya menuju ke suatu tempat. Jika salah satu sayap terluka atau dalam kondisi sakit, maka burung akan mengalami ketidakseimbangan terbang sehingga sulit mencapai tempat tujuan. Analogi di atas menggambarkan bahwa kedua sayap tak ubahnya sepasang suami istri yang saling bahu membahu dalam mengarungi bahtera hidup. Jika ada keseimbangan dalam kerja sama (ta’awun) atau co-parenting antara suami dan istri, maka misi membimbing dan mengarahkan seluruh anggota keluarga akan berjalan dengan harmonis.
Co-parenting merujuk pada makna bagaimana sepasang suami istri saling bekerjasama dalam membina keharmonisan rumah tangga di tengah kesibukan karir yang menjadi sumber penghasilan keluarga. Koentjoro dan Budi Andayani mengatakan bahwa co-parenting adalah pengasuhan yang mempunyai gagasan kedua orang tua terlibat secara seimbang pada anak. Hal ini bersandar pada tujuan berumahtangga, yaitu menciptakan kehidupan keluarga yang penuh dengan kedamaian, cinta, dan kasih sayang sehingga dibutuhkan prinsip kerja sama (amal jama’i) dari para penghuni rumah.
Kerja sama merupakan langkah awal dalam merealisasikan tujuan hidup berkeluarga. Meskipun dalam sebuah rumah tangga baru hanya terdapat dua orang (suami dan istri), namun prinsip kerjasama harus disertai dengan prinsip kepemimpinan. Di sinilah pentingnya seorang pemimpin keluarga. Pemilihan kepala keluarga tidak harus menunggu lahirnya bayi pertama agar jumlah keluarga tersebut menjadi tiga orang. Kalaupun seorang bayi telah lahir, mustahil bagi seorang pemimpin memberi perintah kepada bayi yang masih lemah tersebut. Oleh Karena itu, pemimpin rumah tangga harus salah seorang di antara suami istri. Kejelasan peran dalam berumah tangga akan menciptakan iklim keluarga yang teratur dan stabil sehingga muncul nantinya keluarga yang menjadi teladan bagi masyarakat.
Rumah tangga islami merupakan salah satu pilar dalam mewujudkan masyarakat yang islami. Keberadaannya di tengah-tengah masyarakat --terutama masyarakat yang awam terhadap ajaran Islam—memiliki konsekuensi logis bagi para penghuninya agar berperan aktif dalam aktivitas dakwah sosial. Dalam buku berjudul pernak-pernik rumah tangga islami, tataran, dan peranannya dalam kehidupan masyarakat, Cahyadi Takariawan memberikan beberapa gambaran tentang konsekuensi rumah tangga yang islami terkait dengan pembangunan masyarakat islami.
Pertama: keluarga islami berdiri di atas landasan ibadah dengan niat mencari keridhoan Allah swt. Perasaan menyandarkan diri kepada Allah akan memberikan spirit spiritual untuk bersungguh-sungguh dalam merefleksikan tujuan utama berkeluarga sebagaimana telah diterangkan dalam surat Ar-Rum ayat 21 tentang  kehidupan rumah tangga yang ideal  yaitu : 1) Sakinah (as-sakinah), 2) Mawadah (al-mawaddah), dan 3) Rahmah (ar-rahmah). Keluarga Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah, adalah suatu keluarga dambaan, bahkan merupakan tujuan dari perkawinan itu sendiri. Sakinah itu diberikan Allah SWT ke dalam hati para nabi dan orang-orang yang beriman. Maka, untuk mewujudkan keluarga sakinah, harus melalui berbagai usaha maksimal, baik secara bathiniah (memohon kepada Allah SWT.), maupun secara lahiriah (berusaha memenuhi ketentuan baik yang bersumber dari Allah SWT dan Rasul-Nya.
Kedua: pemenuhan kebutuhan materi bagi anggota keluarga. Kebutuhan materi merupakan kebutuhan dasar yang memberikan kesejahteraan bagi keluarga. Abraham Maslow, tokoh psikologi yang mengemukakan lima hierarki kebutuhan sia (needs) menempatkan kebutuhan fisiologis seperti sandang, pangan, dan tempat tinggal pada posisi pertama. Islam pun mengajarkan kepada umatnya untuk bekerja dalam meraih kebutuhan hidup (maisyah): "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu,,,,, (QS.9: 105) 
Ketiga: pembinaan pendidikan anak (tarbiyatul aulad) dengan menginternalisasikan akhlak islami dan nilai-nilai sosial. Motivasi spiritual yang telah terbangun sejak awal pernikahan, akan memunculkan sikap tanggung jawab dalam mendidik anak. Khususnya, dalam proses internalisasi nilai-nilai ajaran Islam secara kaffah. Hal ini bertujuan agar si anak mampu menjadi pribadi yang berkarakter dan penuh tanggung jawab. Proses internalisasi nilai dapat dilakukan dengan modelling (tauladan) bagi anak. Dalam proses perkembangan menuju kedewasaan, anak memerlukan perhatian dari orang tua. Setiap perkembangan manusia bukan dimulai dari perkembangan “aku” tetapi dari “kita” (undifferentiated). Seorang anak yang masih kecil diasuh oleh dan bergantung kepada orang tua dan  manusia yang ada disekitarnya. Proses internalisasi akhlak dan nilai di dalam keluarga merupakan proses yang fundamental bagi pembentukan karakter anak. Semakin baik hasil internalisasi, semakin siap pula mental si anak untuk dapat hidup bersama dengan masyarakat luas.
Ketiga: membiasakan dalam menegakkan adab-adab islam. Proses internalisasi yang dilakukan dengan pendidikan yang rutin mampu melahirkan kebiasaan, hingga berubah menjadi karakter dalam diri seorang anak. Pembiasaan berperilaku dengan mengindahkan adab-adab islam akan membuat masyarakat sekitar merasa senang dan nyaman bergaul dengan kita. Sebagaimana petuah Ali bin Abi Thalib ra: “ Siapa yang lembut tutur katanya, maka setiap orang pasti akan jatuh hati kepadanya.”
Keempat: berperan dalam pembinaan masyarakat. Ibnu Khaldun dalam muqodimahnya mengatakan bahwa kehidupan seseorang di dunia bersifat sosial, sedangkan kehidupannya di akhirat bersifat individual. Oleh karena itu, kehidupan bersosial menjadi kepentingan yang tidak boleh diabaikan oleh kepentingan pribadi. Sebagai seorang muslim, ada kewajiban untuk membina dan mengarahkan masyarakat berprilaku islami. Tugas mengajak dan membina masyarakat merupakan kewajiban yang paling besar dalam merealisasikan masyarakat madani. Masyarakat madani yaitu masyarakat yang beradab dengan penuh keindahan akhlak islami. Wujud terbesar dari peranan keluarga islami dalam pembentukan masyarakat madani adalah terwujudnya bangsa yang penuh dengan keberkahan dan  maghfiroh (ampunan).
Pembinaan anggota keluarga merupakan kewajiban utama dalam merealisasikan tatanan kehidupan bermasyarakat. Bagi seorang muslim, pembinaan keluarga islami selalu diilhami dari nilai-nilai ilahiyah. Tujuannya adalah terciptanya kehidupan yang sakinah, mawadah, warahmah di dunia dan di akhirat hingga bermuara pada surga (jannah). Penanaman nilai-nilai anak dengan prinsip co-parenting merupakan sebuah proses penyemaian benih-benih penerus  keberlangsungan tatanan masyarakat yang berkarakter. Sekaligus, berarti sebuah proyek besar membentuk bangsa kuat yang penuh dengan peradaban. Tidak lain dan tidak bukan, hal tersebut merefleksikan peran manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dan dalam hal ini, wujud terbesar dari peran keluarga islami adalah menciptakan bangsa yang beradab dan penuh dengan nilai-nilai akhlak islami. Dengan sangat bernas, Islam menyebutnya sebagai “ Baldatun tayyibatun wa rabbun ghofur”(Negara yang baik (beradab) dan penuh ampunan(kesejahteraan).
NB: Karya ini sudah di ikutkan dalam lomba tulis di UNS FIK dan menjadi Juara I

Tidak ada komentar:

Posting Komentar