Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 17 April 2012

Menumbuhkan Karakter Cantik Perempuan dengan Ketaqwaan

Muslimah yang sholehah selalu menyejukan setiap org yg berelasi dengannya
Sejak dahulu kala hingga sekarang, kecantikan seorang perempuan merupakan ‘jurus’ yang cukup jitu dalam menundukan lawan. Tidak bisa dipungkiri pula banyak sebagian fakta sejarah bercerita tentang kelumpuhan seorang komandan perang oleh kecantikan perempuan. Ampuhnya jurus ‘kecantikan’ membuat sebagian para perempuan sekarang terus berlomba-lomba untuk tampil menghiasi dirinya.
Sederetan produk penghias dan perawatan tubuh di toko-toko kosmetik seperti pemutih dan pemulus kulit dan parfum yang wangi menjadi sasaran utama sebagai sarana untuk membentuk tampilan yang menarik orang. Tidak lupa pula sajian pola hidup untuk mempertahankan kelangsungan tampilan menjadi menu yang harus diperhatikan. Program diet makan menjadi menu utama  agar berat tubuh tidak bertambah sehingga kelihatan tetap ramping. Beraneka ragam aksesoris seperti menyambung rambut agar kelihatan panjang, meluruskan rambut, mengecat kuku tangan, mencukur alis, memakai baju sexy dan sebagainya seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang harus ditunaikan. Di sisi lain, banyak media elektronik maupun tulis seperti TV, majalah, koran selalu menampilkan publik figur yang dianggap mereka cantik. Al hasil seolah-olah membuat mereka terhipnotis dan memunculkan motivasi untuk mengejar kecantikan seperti para idolanya
.
Melihat pola hidup sebagian para perempuan di sekeliling kita yang ingin tampil dengan kecantikan yang menawan, seolah-olah harga kecantikan sangat mahal. Bagi mereka mungkin mengeluarkan biaya yang mahal untuk menghias dan merawat tubuh merupakan kebutuhan untuk bisa mengaktualisasi dirinya agar menarik perhatian orang-orang di sekeliling. Hal ini senada dengan pendapat maslow seorang tokoh psikologi humanistik yang mengatakan bahwa aktualisasi diri merupaka suatu kebutuhan hidup seseorang. Namun jika seorang dituntut untuk mengaktualisasi dirinya bersumber pada kekuatan ekonomi, maka tidak bisa dinafikan kemungkinan aktualisasi dirinya cepat hilang. Karena kekuatan ekonomi bersifat fluktuasi sedangkan kebutuhan untuk tetap tampil cantik lebih bersifat tetap.
Bagi perempuan yang tidak bisa memenuhi kebutuhan kecantikannya akan melakukan segalanya hal untuk mendapatkan uang agar tetap tampil cantik. Sehingga konsekuensi terbesar adalah makin pudarnya kecantikan dalam diri seorang perempuan yang berupa tabiat kelembutan dalam berperilaku karena selalu mengejar harapan-harapan dengan melakukan segala hal.
Dalam prespektif islam, kecantikan merupakan keindahan dan  anugrah yang dimiliki oleh semua perempuan yang terlahir ke dunia. Sedangkan merawatnya merupakan sebuah kebutuhan yang harus ditunaikan sebagaimana pesan sang tauladan muhammad SAW Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai yang indah, murah hati dan menyukai kemurahatian, menyukai akhlak yang luhur dan membenci akhlak yang rendah.” (HR. Al-Baihaqi)”. Islam menganjurkan umatnya untuk memiliki dua hal kecantikan yaitu kecantikan di luar dan kecantikan dalam ( Beauty inside and beauty outside).
Kecantikan luar (Beauty outside) sering di lihat sebagai kecantikan secara fisik. Banyak orang memberikan penilain tentang kecantikan ini secara berbeda-beda. Karena memang kecantikan secara fisik bersifat relatif tergantung pada penilaian seseorang. Bukan tinggi, ramping dan indahnya bentuk tubuh seorang perempuan yang menjadi ukuran kecantikan seseorang. Namun bagaimana sisi kecantikan fisik (beauty outside) dan kecantikan dalam ( Beauty inside) tertunaikan secara seimbang. Jika kecantikan luar yang secara fisik dapat dilihat orang, maka kecantikan dalam tidak bisa terlihat oleh mata namun dapat dirasa oleh orang-orang di sekeliling seperti kelembutan dan keramahan seseorang kejujuran, kepatuhan dan sebagainya.
Jika kecantikan luar lebih diutamakan, maka akan banyak menguras tenaga baik secara finansial maupun tenaga pikiran. Kecantikan luar hanya dapat bertahan seiring dengan pertumbuhan usia. Jika sudah memasuki usia tua, kecantikan seseorang akan mengalami penurunan karena memang kehidupan di dunia tidak ada yang abadi. Namun jika kecantikan dalam lebih diunggulkan dan mengabaikan kecantikan luar, maka bisa memberikan penilaian yang kurang baik dari seseorang seperti, sedikitnya orang yang bergaul karena kebersihan yang kurang terjaga.
Islam menawarkan aksesoris yang sangat murah lagi indah dan anggun untuk ditunaikan dalam memelihara kecantikan luar dan kecantikan dalam. Diperintahkannya perempuan untuk menutup aurat agar tidak menjadi fitnah sehingga kehormatan dan kewibawaan dirinya terjaga. Kerudung yang menutup kepala hingga sampai dada sebagai mahkota layaknya mahkota bunga yang indah dipandang serta sebagai ciri khas seorang muslimah yang mudah dikenal. Kelonggaran bentuk pakaian yang tidak memperlihatkan lekukan tubuh menjadi tameng bagi syahwat orang yang memandang. Sedangkan aksesoris seperti wanginya parfum dan indahnya penampilan hanya dapat diperlihatkan untuk orang-orang tertentu dalam lingkungan keluarga sehingga hemat biaya ekonomi untuk kebutuhan pembelian aksesoris perawatan penampilan.
Sedangkan kecantikan dalam perempuan (Beauty Inside) terlihat dari kelembutan dan kehalusan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Tabiat perempuan yang sesuai dengan fitrahnya adalah pemalu. Barangkali itu sebabnya, Allah swt dalam ayat-ayat-Nya tidak menggiring kerinduan perempuan untuk masuk surga melalui iming-iming pasangan laki-laki surga. Berbeda dengan laki-laki. Allah swt membangkitkan kerinduan laki-laki akan surga dengan menyebut adanya bidadari. Oleh karena itu perilaku terpuji menjadi aksesoris yang utama dalam menumbuhkan kecantikan dalam seorang perempuan. Kecantikan dalam lebih mempunyai kekuatan yang tahan lama dari pada kecantikan luar. Bahkan ketika fisik seorang perempuan telah tiada kecantikan dalamnya terkadang masih tersimpan dalam memory orang-orang di sekeliling dan terkadang pula mampu memberikan inspirasi kepada orang untuk meniru keindahan perilaku.
Pada dasarnya kecantikan luar dan dalam (beauty inside and beauty outside) dapat dimiliki oleh semua orang dengan cara belajar untuk memperdalam keilmuan agama. Agama merupakan landasan yang harus dimiliki oleh semua orang dalam menjalani kehidupan. Pemahaman akan ilmu agama dapat juga mengontrol tabiat perilaku manusia yang pada dasarnya selalu dikuasai oleh hawa nafsu. Melemahnya pemahaman akan keilmuan agama juga bisa menjadikan arah hidup seseorang tidak menentu.

Menjadi fakta yang setengah terabaikan oleh para kaum pendidik dalam mengajarkan nilai-nilai islam, karena banyak dari sebagian kaum perempuan berlomba-lomba untuk tampil kedepan dengan berprinsip pada paham feminisme sehingga mengabaikan tuntutan nilai-nilai islam dan lebih mengedepankan nilai-nilai modern. Oleh karena itu pembinaan aqidah, tauhid, ilmu qur’an, akhlak dan ilmu-ilmu islam diperlukan untuk membentuk karakter perempuan yang sholekhah lagi muslikhah (produktif untuk umat).
Perempuan yang mempunyai karakter solekhah dan muslikhah selalu mengindahkan perilakunya dengan nilai-nilai keislaman. Meraka bersikap dan berperilaku atas dua dasar yaitu amal ilmu dan ilmu amali. Amal ilmu yaitu segala amalan perbuatannya selalu berdasarkan ilmu yang dimiliki. Sedangkan ilmu amali yaitu segala pengetahuannya selalu dipraktekan dan disumbangkan dalam bentuk amal kepada umat. Hal ini juga termasuk pengejewantahan dari pesan seorang ulama yaitu  rasa syukurnya seseorang yang mempunyai ilmu yaitu dengan beramal sedangkan rasa syukurnya orang yang selalu beramal yaitu dengan selalu menambah keilmuannya (syukrul ilmi bil ‘amal wa syukrul amal bi ziyadatil ilmi ). Oleh karena itu tidak heran jika ada petuah arab yang memujinya sebagai “madrosatul aulad” (tempat untuk mendidik anak)
 Kelembutan dan ketulusannya merupakan modal yang sangat besar dalam membina anak-anaknya yang kelak akan menyambung peradaban masyarakat. kepentingan membina umat dimasa depan lebih mereka utamakan dari pada kepentingan pribadi. Oleh karena itu pemahaman mereka tentang arti tentang kecantikan berbeda dengan pemahaman yang dimiliki orang awam. Kecantikan wajahnya selalu dia basuh dengan air wudhu yang bisa menyegarkan kulitnya dan menyegarkan kembali urat-urat saraf wajah yang penat, emosi sehingga terlihat cerah dan menyejukkan bagi yang memandangnya. Kehalusan tubuhnya selalu ia pelihara dari sengatan matahari dengan kelonggaran pakaiannya.
Sedangkan nutrisi untuk meningkatkan karakter kecantikannya selalu diliputi ketakwaan dengan ketulusan mengabdi kepada Allah swt seperti sholat malam, baca Al-qur’an dan mempelajarinya, dzikir dan sebagainya. Dalam lingkungan masyarakat, kecantikan karakternya dapat dirasakan oleh semua orang serta memberi pencerahan pada orang disekelilingnya. Hal ini dapat terlihat dari prilakunya yang lebih menghornati orang yang lebih tua serta menyayangi anak-anak. Ketawadhuannya menumbuhkan rasa empati bagi orang yang bersosial dengannya. Kecemerlangan pemikirannya dalam memutuskan perkara tidak pernah lepas dari dasar-dasar agama sehingga banyak orang yang meminta fatwa atau nasehat pada dirinya.
Dengan demikian perempuan yang mempunyai karakter kecantikan luar dan dalam (beauty inside dan beauty outside) adalah perempuan yang mampu mengindahkan nilai-nilai keislaman dalam hidupnya baik dalam hubungannya dengan Allah (khablum minn Allah) maupun hubungan secara horisontal (khablum minan nas). Islam memberi gelar atas kecantikannya dengan gelar perempuan yang sholekhah dan muslikhakh bagi umat. Karena baju ketaqwaan yang mereka pakai dalam hidup tidak pernah mereka lepas. Dengan secara nash Al-qur’an menyebutkan  (libasuttaqwa khoiru minhu ) baju ketakwaan lebih baik dari yang lainnya. Ibnu kastir menerangkan bahwa yang dimaksud dengan baju ketakwaan yaitu secara lahiriah dan ruhiyah. Oleh karena itu setiap ketakwaan dapat memupuk karakter  seseorang  agar dapat terlihat memiliki kecantikan luar (beauty out side). dan kecantikan dalam (beauty in side)


NB: Tulisan ini sudah di ikutkan lomba di BIBOFORKIM di UNIBRAW dan mendapat  juara 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar