Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 17 April 2012

NEGERI IMPIAN


Negeri terlimpah berbagai sumber daya alam baik migas maupun non migas menjadi standar kesejahteraan masyarakat. Luasnya lautan yang membentang antar pulau menjadi mata pencaharian bagi para nelayan. Lebatnya tumbuh-tumbuhan di dalam hutan memberikan corak keanekaragaman hewan. Hamparan sawah yang sangat luas pun menjadi pemasok kebutuhan hidup masyarakat yang hidup dipedesaan. Berbagai macam budaya dan bahasa juga menjadi keunikan negeri ini sehingga para turis asing sering menyebut negeri ini sebagai surga dunia
.
 Persepsi seseorang tentang surga adalah tempat yang indah serta sejahtera tanpa ada perselisihan dan pertengkaran bagi para penghuninya. Namun fakta yang ada dingeri ini berbicara berbalik dengan persepsi “surga dunia”. Masyarakat hanya bisa merasakan kesejahteraan dan terhibur oleh impian-impian yang didongengkan oleh “para sekelompok kaum elit politik” melalui janji-janjinya pada pesta demokrasi atau pemilihan pemimpin. Janji-janji dan impian besar yang dilontarkan oleh para calon penyalur aspirasi rakyat seolah-olah telah menghipnotis masyarakat untuk bebas memberikan hak suaranya kepada mereka tanpa menyadari siapa yang dipilihnya dan apa kompetensi yang dimiliki.
Impian besar yang terbingkai dalam “kebebasan (freedom)” memberikan jaminan bagi masyarakat hidup dalam keadilan. Masyarakat bebas memiliki, bebas berpendapat sehingga sampailah kebebasan hanya bisa dimiliki mereka yang ber-uang. Bersandar pada paham freedom, kebebasan menjadi dasar dari perlindungan HAM. Fenomena kasus perilaku penyanyi ariel dan dua artis kondang membuat heboh negeri ini. Standar kasus pelanggaran mereka tidak pada tindakan perilakunya melainkan pada orang yang telah menyebarkan modus perilaku. Fenomena tentang jama’ah Ahmadiyah menjadi polemik berdebatan para tokoh. Kebebasan berkeyakinan dan beragama membingkai pelecehan agama sehingga menimbulkan perilaku agresif pada sebagian masyarakat.
Keadilan dan kesejahteraan dalam negeri ini terasa sangat mahal bahkan seolah-olah mencekik leher masyarakat. Mahalnya biaya kebutuhan hidup yang terus menaik seperti harga cabai yang menjulang tinggi sampai Rp100.000 1 kg dan kenaikan BBM,   menimbulkan paham pasrahisme serta mendidik karakter masyarakat bermental nrimo (Nrimo mentality). Kekayaan yang melimpah di negeri penyandang prediket surga dunia ini, hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang kemampuan ekonominya tinggi (pemilik modal). Sistem pendidikan dijalankan oleh pemilik modal dengan semangat keruk laba, sistem pelayanan kesehatan dijalankan dengan hasrat untuk meraih keuntungan dan area pertanian dikelola dengan tunduk pada prinsip-prinsip dasar pasar. Ketidak seimbangan masyarakat merasakan keadilan dan kesejateraan menimbulkan gap (kesenjangan dalam hidup bermasyarakat). Hal ini mirip dengan moralitas Abu lahab. Abu lahab sangat percaya dengan sistem sosial dimana dirinya menjadi pemenangnya dan sangat tidak mempercayai gagasan Muhammad akan keadilan. Dengan demikian slogan,kebebasan, kesejahteraan, dan  kemajuan yang telah banyak di kumandangkan ketika pesta demokrasi hanya bersifat utopis.
Negeri kita yang beraneka ragam agama dan didominasi oleh umat muslim memberikan kebijakan publik sebagi arena berlatih ummat dalam melihat kembali tugas dan fungsi negara. Apapun bentuk negeri itu baik demokratis atau pancasila, ummat islam memiliki kriteria dasar tentang keadilan, keberpihakan pada kaum yang lemah dan perlindungan bagi mereka yang miskin. Amanah undang-undang pun mengajarkan bahwa negara punya tugas suci: memakmurkan, mensejahterakan dan melindungi rakyat. Arah pelayanan negara sesuai dengan misi islam, yaitu pembebasan para budak (mengurangi tingkat pengangguran) dan kesempurnaan akhlak (menata moral dan prilaku masyarakat. Ummat memang perlu mengubah kembali pandangan atas negara, negara bukan sebagai penguasa, tapi pelayan rakyat. Sebab dalam prespektif islam, kekuasaan itu adalah amanah dan bukan hanya Tuhan atau malaikat yang akan menjadi hakim tapi rakyat juga terlibat dalam menjaga “lurusnya’ amanah.
Penulis sebagai seorang muslim, merujuk pada Al-Qur’an yang telah memberikan (tamsil) gambaran moral cerita yang mendasar bagaimana sistem yang dusta harus tarik menarik dengan gerakan para utusan Tuhan. Berbagai kisah-kisah kebaikan dan kejahatan bertutur tentang sistem sosial yang melahirkan banyak kaum pendusta sekaligus para pejuang kebenaran. Kisah fir’aun diulang berkali-kali menyindir secara tajam bagaimana penguasa yang menciptakan sebuah sistem yang menindas tidak akan sadar sebelum ada seorang yang berani mengingatkannya. Hampir semua utusan Tuhan tidak berhadapan dengan perangai individu tapi sistem kolektif yang keji dan malas untuk melihat cahaya kebenaran. Nalar cerita semacam ini yang akan membekali ummat untuk menguji sistem politik yang katanya demokratis.

Dengan demikian dibutuhkan sebuah solusi yang tepat sehingga kesejahteraan masyarakat tidak lagi hanya sebagai impian-impian yang ditawarkan saat pesta demokrasi. Dr Hidayat nurwahid pernah mengutip perkataan arab zaalal ‘alim zaalal ‘alam (tergelincirnya seorang alim/pemimpin akan membawa tergelincirnya alam semesta (yang dipimpinnya). Kalimat diatas mengingatkan kepada kita akan pembentukan kartakter seorang ledeship yang mengemban visi dan misi nilai ketuhanan. Seorang pemimpin yang dalam kepemimpinannya lebih mengedepankan nilai-nilai ketuhanan lebih memberikan pengaruh yang besar dari pada pola kepemimpinan yang bersandar pada kekuatan materi. Ajaran nilai-nilai ilahi memberikan prinsip hidup kerjasama (berjama’ah) dalam masyarakat diantaranya melalui system pendidikan yang gratis, system perekonomian yang dimiliki oleh umat, dan system kesehatan yang gratis.
Dasar dalam  merealisasikan kesejahteraan masyarakat terletak dalam tiga system diatas. Pendidikan yang gratis sebagai implementasi ajaran islam agar umat (masyarakat) bisa mempunyai pandangan hidup yang cerah. Oleh karena itu perintah membaca dan bertebarlah kalian (manusia) dibumi ini mendidik umat untuk selalu memiliki dinamika yang progresif. System perekonomian dalam islam terbagi menjadi tiga yaitu, harta publik, harta Negara dan harta pribadi. Harta publik yaitu harta yang harus dimiliki oleh semua masyarakat muslim di seluruh dunia. Contohnya yaitu Air, Kayu, dan Energi (minyak). Sedangkan harta pribadi seperti, harta dari mahar pernikahan, harta dari qishah atau denda ,harta dari shodaqoh dan lain sebagainya. Harta Negara didapat dari hasil rampasan peperangan dan pajak. System kesehatan yang gratis menciptakan masyarakat yang sehat dan berkualitas dalam bekerja. Melalui tulisan ini semoga pembaca bisa lebih banyak lagi mengkaji ajaran-ajaran islam bukan hanya belajar menghadapi tuntutan zaman yang telah diprakasai oleh barat. Namun belajar memberikan solusi pemecah probelamatika masyarakat melalui ajaran kita yaitu islam. Pribadi muslim yang terlahir di dunia dengan berpegang pada prinsip individualistik dalam hidupnya, maka akan mati dalam kesendiriannya. Ibnu khaldul mengatakan bahwa kehidupan social hanya ada di dunia sedangkan kehidupan individualistik hanya ada di akhirat. Oleh karena itu memikirkan, membantu pemecahan masyarakat menjadi kewajiban bagi mereka yang hidup di dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar