Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 17 April 2012

Guru ku yang Tulus dan Ikhlas (Kutulusan yang berbuah kepercayaan)


Mendidik merupakan tanggung jawab yang besar bagi setiap orang. Kemampuan mendidik merupakan usaha yang  membutuhkan segenap potensi baik itu potensi kognitif, afektif, dan psikomotor.  Dalam dunia pendidikan formal, tanggung jawab mendidik lebih di serahkan kepada para guru. Profesi guru sering kali diberi gelar sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Barang kali, gelar seperti itu yang membuat sebagian orang menganggap profesi guru sebagai pekerjaan sampingan. Di sisi lain menjadi seorang guru dibutuhkan kemampuan mental yang matang diantaranya adalah memiliki sikap kesabaran dalam mendidik.
Bagi seorang guru TK kesabaran merupakan bekal yang paling besar dalam membimbing siswa. Perjuangannya bagaikan seorang petani yang menanam benih baru di tanah yang memiliki tingkat kesuburan tinggi. Begitupun juga, setiap informasi yang disampaikan pada anak kecil sangat mudah diterima dan tersimpan dalam memory mereka baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Sikap ketulusan dan keikhlasan dalam memberi rasa kasih sayang kepada anak-anak memancing mereka semakin akrab dan nyaman untuk diajak kerja sama dalam proses belajar. Sedangkan berbagai permainan, kisah-kisah dan lagu yang di ajarkan adalah usaha agar mereka tetap semangat untuk berangkat ke sekolah.

Melihat selintas perjuangan seorang guru TK, sulit dilupakan pengabdiannya dalam memori seorang anak yang pernah dibimbing olehnya. Masih terlihat jelas pengabidan dua orang wanita pengajar TK Aisyah Bustanul Atfal dari sejak dahulu hingga saat ini. Meski umurnya sudah banyak melemahkan tenaganya serta merubah kondisi fisiknya, namun semangat pengabdiannya tetap seperti saat muda. Ke-dua wanita tersebut sering di panggil oleh murid –murid dengan panggilan bu Rumiah dan bu Siti. Jika dihitung pengabdiannya berdasarkan umur penulis, mungkin pengabdian mereka di TK Aisyah Bustanul Atfal lebih dari 30 tahun. Karena sebelum penulis lahir, mereka berdua sudah mendedikasikan dirinya sebagai seorang guru sejak sebelum kakak saya lahir.
Ketulusan dan keikhlasan bu rumiah dan bu siti dalam pengabidannya di TK Aisyah Bustanul Atfal terlihat sekali dari kondisi rumahnya yang sangat sederhana. Mereka berdua bukanlah seorang pegawai negeri dan juga pula bukan seorang lulusan perguruan tinggi namun hanya lulusan MTS (setingkat SMP). Bagi penduduk desa kenduren kota demak saat era 80an, orang yang telah lulus MTS merupakan orang yang dianggap terpandang. Hal ini membuat masyarakat setempat menyerahkan kepercayaan mereka dalam membimbing anak-anak kecil kepada dua wanita tersebut.
Lamanya waktu pengabdian mereka berdua, membuat para anak-anak yang pernah didik olehnya, banyak yang telah lulus sekolah sampai perguruan tinggi. Berbekal sikap keikhlasan dan kesabaran dalam mengajar dari generasi ke generasi, tidak mengherankan jika sampai saat ini mereka berdua masih tetap dipercaya untuk membimbing anak-anak kecil. Bahkan dengan perkembangan rata-rata perekonomian masyarakat setempat saat ini, maka dibangun juga PAUD yang di percayakan kepada bu rumiah dengan dibantu warga setempat. Bukan keuntungan materi yang mereka utamakan dan bukan pula kehormatan ditengah-tengah masyarakat awam yang mereka cari. Namun ketulusan dan keikhlasan pengabdian dalam menyalurkan rasa kasih sayang pada anak-anak desanya yang mereka utamakan.
Bercermin pada era saat ini, sangat  mahal sekali arti sebuah keikhlasan dan kepercayaan. Segalanya serba di ukur dengan sejumlah uang dalam melakukan perbuatan. Sehingga masyarakat sangat khawatir memberikan kepercayaan tentang urusan publik kepada setiap orang. Konsekuensi terbesar adalah hilangnya publik figur yang menjadi panutan bagi masyarakat. Oleh karena itu, akhir-akhir ini muncul wacana dari pemerintah tentang pendidikan karakter.
Pendidikan karakter merupakan pondasi terbentuknya bangsa yang bermartabat. Menurut pendapat penulis, titik sentral pendidikan karakter bukan terletak pada murid serta instrument-instrument atau sarana dalam proses pembelajaran yang lengkap. Akan tetapi lebih terletak pada sikap seorang pendidik. Karena pada dasarnya pendidikan adalah keteladanan untuk membimbing kearah nilai-nilai yang normatif dan akhlaqiyah. Oleh sebab itu, pendidik merupakan teladan (modelling) yang seharusnya bersikap untuk ditiru para murid. Secara nash al-qur’an menerangkan “ bahwa  seorang rasul diutus untuk dijadikan sebagai panutan”. Dengan demikian, menjadi tugas para pendidik untuk berusaha membimbing dengan sepenuh hati dan ketulusan. Supaya para siswa dapat lebih dekat dan tidak takut bertanya jika kurang paham terhadap materi yang diajarkan.
Seharusnya sebagai pendidik, tidak menjadikan utama besarnya nilai materi yang diterima. Karena jika hal ini selalu diutamakan, maka profesi sebagai guru akan terus dikesampingkan. Terlebih lagi jika tanggung jawab seorang pendidik diserahkan oleh non PNS. Oleh karena itu kesadaran mendidik dan mencerdaskan anak bangsa seharusnya terlahir dari hati nurani yang berbuah ketulusan. Sedangkan sikap keikhlasan tercermin dari sikap menerima dengan senag hati terhadap apa yang telah diberikan oleh pihak pemberi atau pihak penggaji.
 Jika melihat dari sisi spritual, karakter atau sikap ketulusan dan keikhlasan terhadap orang lain memberikan pengaruh yang nyaman bagi si pelaku dan penerima pelayanan. Ketentraman di antara kedua belah pihak memunculkan sikap rasa saling percaya.  Sebagaimana sikap yang telah dilakukan oleh bu rumiah dan bu siti dalam membimbing anak-anak TK  Aisyah Bustanul Atfal. Puluhan tahun mereka telah mengabdikan dirinya untuk mencerdasakan  anak-anak. Sehingga pada akhirnya, diamanahkan untuk mengurusi PAUD karena kepercayaannya. Bagi seorang anak yang pernah didik olehnya, karakter keikhlasan, ketulusan serta kesabaran yang ada pada seorang gurunya hingga saat ini, menjadi inspirasi sebagai rujukan untuk dapat ditiru dalam pengabdian kepada masyarkat.
Adapun dasar utama dalam menumbuhkan karakter keikhlasan dan ketulusan adalah sikap mencintai terhadap sesama. Barangkali dari sikap inilah sang baginda muhammad SAW memberikan prediket orang terbaik dalam perkataannya yang terkenal jujur (“khoirun nas anfa’ahum lin nas”) sebaik-baik orang adalah orang-orang yang mampu memberikan kontribusi atau manfaat pada orang lain. Pada ranah yang paling besar, sikap memberikan atau mengajarkan kepada masyarakat disertai dengan ketulusan dan keikhlasan dalam mendidik dapat menumbuhkan sikap nasionalis yang sebenarnya. Sebagaimana kecintaan para pahlwan dalam memperjuangkan bangsa dari cengkraman penjajah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar