Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 17 Juli 2012

Be A Good Muslim, yg Lain No Coment,,,


Lelaki Shaleh :)
Setelah banyak mempelajari tentang faktor-faktor pembentukan kepribadian dan keterarahan segala aktivitas manusia, maka menjadi Muslim ialah pilihan pertama yang harus direalisasikan. Bukankah begitu kawan??, dengan dasar slogan islam “Al-Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaih”, (islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihi ketinggiannya, merupakan slogan yang menggelitikkan hati kita untuk tampil Percaya diri sebagai seorang muslim, perhatikanlah Allah swt memerintahkan kita untuk tampil sebagai seorang muslim,
Artinya:  "Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)" (QS. Al-Imron: 64).
 Be A good Muslim adalah dambaan setiap orang. Kepribadiannya terbentuk diawali dengan peletakan nilai-nilai dasar kehidupan yaitu Aqidah islamiyah (dokrin Tauhid) . Alur interaksi kehidupannya terbingkai dalam ibadah (ubudiyah) dan hubungan sosial yang islami (muamalah). Keindahan akhlaknya dalam bermuamalah berjalan dalam tata aturan ilahiyah yang bepusat pada God sentries.

Pesonamu Lebih Baik dari Personamu


Membaca sekilas sub judul di atas pasti teringat dalam memory kita seorang penyanyi kelas papan atas yaitu bang Ariel. Grup bandnya yang bernama peter pan sempet menjadi icon idola para remaja kala itu. Bahkan sampai sekarang pun lagu-lagu dari grup band yang tersohor itu masih banyak peminatnya. Nah, satu lagu berjudul topeng dengan reff yang berbunyi bukalah topengmu, bukalah kulit warnamu, seolah kepribadian manusia itu selalu diliputi topeng. Yups,,benar aja si ariel mungkin dia sebelum menciptakan lagunya baca buku psikologi dulu ya? Hhe..Kepribadian manusia memang dalam istilah psikologinya sering diartikan sebagai persona yang artinya adalah topeng.
Contoh soal topeng nih ada cerita klasik “Dr.Jengkyl and Mr. Hyde” karya Robert Louis Stevenson yang bercerita ttg seorang dokter penolong yang juga pembunuh. Di siang hari, Dr jengkyl berprofesi sebagai seorang dokter yang menyelamatkan kehidupan manusia, di malam hari ia berlaku bagai setan kegelapan pencabut nyawa. Menarik memang, bagaimana dua pribadi yg bertolak belakang tersebut bisa hidup akur dalam satu tubuh
Pesonamu lebih baik dari Persona (Topeng)mu
Nah,,topeng yang tidak menggambarkan kepribadian asli seseorang seolah menjadi pertahanan diri agar banyak diminati dan bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar.  Carl Gustav Jung, salah satu murid freud seorang pakar psikologi psikoanalisis, dengan teori psikologi analisisnya dia mengatakan bahwa dalam diri seseorang terdapat mask. Mask tersebut merupakan mekanisme perlindungan sekaligus mekanisme adaptasi manusia terhadap kondisi eksternalnya. Orang awam menyebut mask ini sebagai topeng. Setiap orang memakainya unuk beradaptasi. Pada beberapa orang, topeng ini dipakai dengan begitu tebalnya atau begitu terbiasanya, sehingga orang itu sendiri pun sulit membedakan mana dirinya yang sesungguhnya dan mana yang topengnya.
Ketidak jelasan identitas kepribadian ini biasanya membuat seseorang mudah galau. Kok bisa?,

Ah,, G’MALU,!!! PROFESIKU IBU RUMAH TANGGA


Pagi itu tanggal 15 juli hari akhad berkumpul para ibu-ibu di balai desa gonilan kartasura. Mereka hadir dengan niat yang tulus dan ikhlas untuk mengikuti pelatihan dukungan positif bagi pengasuhan anak. Bagaimana mereka tidak tulus dan ikhlas?? Mereka telah menyempatkan waktu pagi hingga siang pukul 14.00 hanya untuk menjadi pendengar agar dapat wawasan tentang pengasuhan anak yang benar. Yach,,bagi mereka yang tidak punya niat yang ikhlas tentu waktu pagi, mereka lebih utamakan untuk di rumah, entah ngobrol dengan tetangga atau sekedar duduk-duduk di teras rumah menunggu pedagang kaki lima. Lagi pula hari itu adalah hari akhad bertepatan dengan hari libur bagi mereka yang bekerja di instansi-instansi. Jadi peluang bagi ibu-ibu untuk menikmati hari liburnya sangat terbuka lebar.
Namun niatan untuk menikmati hari libur yang tanpa makna, lebih diurungkan oleh para ibu-ibu yang hadir dalam pelatihan di balai desa gonilan. Satu persatu ibu-ibu datang dengan sapaan dan ekspresi tersenyum. Anak-anak kecil digendong menjadi bukti rasa kasih sayang seorang ibu sedangkan raut wajahnya terlihat seolah tidak menanggung beban saat bertemu dengan setiap orang. Mereka mulai duduk di kursi-kursi yang telah dipersiapkan oleh para panitia sembari menunggu hadirnya pembicara.
Tepat pukul 10.20 acara dimulai, meski jadwal yang telah direncanakan pukul 09.00 tapi tidak masalah bagi ibu-ibu yang sudah menunggu sejak awal (barangkali mereka sudah memaklumi,,klo tradisi soal waktu di Negara ini selalu mundur heehee), eits,,kemunduran rencana waktu bukan karena panitianya yang molor lho,,,tapi dengan penuh kesabaran panitia menunggu hadirnya ibu-ibu. Soalnya saat itu yang datang baru dua orang hiihii,,bener-bener karakter indo banget ^ ^.
Suasana Seminar hehe ^ ^
So start aja deh,,pukul 10.20 acara di mulai. Pelatihan diawali dengan senam menari selama lima menit dengan diiringi alunan musik penggugah semangat,,,Ayo “ibu-ibu kita gerakkan telapak tangan kita,,dengan nada suara,,tang ting tung tang,,ting tung,,lalu letakkan tangan di pinggul sambil goyangkan badan kesamping dua kali,nah sekarang gerakan tangan bebas ibu-ibu senyaman kalian”. Hehee,,hee suuer lucu banget saat lihat ibu-ibu itu menari. Keceriaan pun akhirnya terlihat dalam ruangan tersebut. Hhee seolah kembali lagi seperti saat waktu masih kanak-kanak ya ibu,,^ ^.
Nah, setelah senam tari selesai saatnya komando sersan (serius tapi santai) di awali. Pemberian meteri pun disampaikan dengan penuh gaya variatif sehingga tidak bikin para ibu mengantuk. Berbagai pertanyaan tentang pengasuhan anak pun dilontarkan oleh ibu kepada pembicara. Yach,,inilah bukti ibu-ibu serius klo mau mendidik anaknya lho..^ ^. Meteri pertama di sajikan bagaimana komunikasi yang postif dan membangun emosional anak. Saya yang saat itu sebagai observer pelatihan di dalam rungan Cuma bisa bergumam,,”semangatmu mencari ilmu sungguh luar biasa bu,,fisikmu sudah tidak lagi muda tapi jiwamu masih muda dan membara, sungguh engkau telah mengalahkan kami yang masih muda. Kesungguhanmu untuk menciptakan generasi cemerlang selalu engkau bingkai dalam rasa kasih sayang” awesome!!! Pelatihan yang sangat menarik.

Rabu, 06 Juni 2012

Kerikil yg Mengganjal

The Journey in Cannal--Cenduren Village
Selasa 1 mei 2010 ?? Yach,,itulah sebagian dari nama hari beserta kode planning kehidupan manusia. Aneka ekspresi setiap orang musti beraneka ragam. But That’s day  special for me. Why???karena ada beberapa hal yang bikin senam emosi hehe,, Pertama, waktu malam ada pertandingan bola dan club favorite ku Manchesetr Cty saat itu sedang bertanding melawan sang juara musim lalu yaitu Manchester United. Meski pertandingan ini jadwalnya tengah malam jam 1, tapi bagi saya, pokoknya harus nonton coz ini pertandingan yang sangat seruuu. J.Entah kesambet virus cinta apa saya hee,,sangking cintanya sama club itu, jadwal aktivitas malem saya atur dengan rapi, jam 21.00 pun saya jadwalkan untuk tidur dan malemnya jam 00.30 bangun. Eits,,kenapa harus bangun jam 00.30? hehee..sebagai manusia saya sadar bagaimana meletakkan rasa cinta terhadap hobi dengan kepada sang Khalik yaitu Allah. Kebutuhan kepada Allah lah yang pertama saya dahulukan. Coz ditengah malem itulah kemuliaan dan keagungan Allah akan terasa dekat saat kita curhat kepadaNya. Rasa syukur jika diucapkan dengan menghayati beberapa nikmat yang telah diberikan kepada kita saat malam hari, seolah memberikan kesadaraan dan perasaan malu berapa banyak nikmat yang telah kita shodaqohkan, padahal sering kali Allah memperingatkan kita “nikmat mana yang engkau dustakan?” dan dalam sindirannya di ayat lain juga disebutkan “amat sedikit orang-orang yang bersyukur”. “Duh Rabb yang menggenggam alam semesta ini ampunilah daku yang banyak lupa akan nikmat-Mu”.

Sabtu, 02 Juni 2012

DoN’t sTtoP HerE !!!

Berawal dari ucapan seorang teman “akhi antum ikut pelatihan menulis bahkan menjadi panitia dalam acara pelatihan menulis akan tetapi klo gak pernah sama sekali menjatuhkan tinta dari hasil pikiran antum ya,,percuma saja. Ilmu yang antum dapatkan gak ada manfaatnya”. Jleb…bagaikan pisau yang membelah buah semangka, kaget dan menjadi bepikir saya. Iya benar juga ya,,,kenapa saya selalu ikut pelatihan menulis tapi gak pernah saya sekali menulis..ah,,bikin umur saya terbuang sia-sia..begitu gumamku. Dengan semangat untuk perbuahan, saya pun mulai pergi ke gramedia untuk melihat hasil karya buku-buku para penulis. Sampek di gramedia saya pun melihat ratusan buku-buku yang tersebar. Orang-orang banyak menikmati bacaan buku tersebut. saya sendiri pun bingung karena judul buku-buku yang dijual sangat beranek ragam. Ada buku kuhusus pendidikan, novel, bacaan ringan yang jelas banyak deh,,bikin kepala ini bingung mau baca yang mana. Hee..J. Karena memang niat pertama ke gramedia Cuma pengen lihat-lihat buku.

Memformulakan Pesantren sebagai Embrio Masyarakat Madani melalui Strategi Pemberdayaan Skill Santri

Pesantren tumbuh bersamaan dengan pertumbuhan islam di indonesia. Visi dan misi awal terbentuknya pesantren tidak terlepas dari visi misi agama islam yaitu untuk membangkitkan intuisi beragama dan menggugah fitrah kemanusiaan (insaniyah) sehingga menjadi pemeluk agama yang taat dan patuh pada aturan-aturan islam (muttaqin). Tujuan pendidikan tersebut memberikan dampak pada perluasan agama islam di Indonesia menjadi semakin luas.
Keberhasilan pesantren masa dahulu dalam merealisasikan visi dan misinya memberikan rasa simpati pada masyarakat. Sehingga lembaga pendidikan tersebut sampai saat ini masih tetap survive. Banyak dari sebagian masyarakat sekarang masih memilih anaknya untuk belajar di pesantren dengan alasan sebagai berikut, adanya anggapan bahwa mendidik agama bagi anak adalah suatu kewajiban sehingga pesantren merupakan solusi yang tepat, di sisi lain pesantren merupakan lembaga yang baik dalam menata akhlak anak dan biaya pesantren yang relative terjangkau terutama di pesantren yang masih bercorak tradisional.
Besarnya kepercayaan masyarakat terhadap pesantren dan semakin majunya perkembangan zaman menimbulkan formulasi yang baru pada lembaga pendidikan tersebut, baik dari segi menejemen pesantren, gaya kepemimpinan kyai atau ustadz, pengembangan visi, perubahan model pembelajaran dan pemberdayaan sumber daya manusia. Pesantren yang tidak peka terhadap kemajuan zaman hanya akan mendidik para santrinya “terkurung dalam tempurung ego”. Para santri hanya akan memiliki karakter kesholehan secara pribadi sedangkan keshalehan untuk orang lain (kemuslihan) menjadi terabaikan. Tergambar dengan jelas dalam lingkungan sekitar, bahwa para alumni dari pesantren banyak yang kebingungan dalam mencari pekerjaan. Hal ini disebabkan, rendahnya ketrampilan yang dimiliki kaum santri dan masih tidak diakuinya ijazah lulusan dari pesantren oleh sebagian lembaga-lembaga yang membuka lowongan pekerjaan.
Dewasa ini kemajuan teknologi dan era globalisasi menjadi tantangan yang harus ditanggapai oleh lembaga pendidikan pesantren. Era globalisasi telah banyak merubah sikap hidup masyarakat. Nilai-nilai materialistik seolah telah menghipontis sebagian masyarakat sehingga menjadi prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, tidak jarang banyak dari sebagian para orang tua beralih memilih sekolahan yang lebih siap dalam menyiapkan peserta didiknya di masa depan. Dengan demikian, pesantren sudah bukan menjadi prioritas utama bagi masyarakat dalam menitipkan anaknya. Terabaikannya pesantren juga tidak lepas dari persepsi masyarakat tentang fenomena pesantren yang cenderung masih konservatif, tradisonal dan ortodoks. Sehingga menimbulkan animo di sebagian kalangan masyarakat, bahwa pesantren bagaikan “penjara” bagi anak. Segalanya penuh dengan peraturan dan anak sangat sedikit memiliki ruang kebebasan dalam mengembangkan kemampuannya.
Fenomena diatas memberikan gambaran bahwa pesantren yang tidak sanggup menjawab tantangan kemajuan zaman, akan semakin kehilangan kepercayaannya dalam masyarakat. Pesantren yang dahulu sebagai embrio untuk mencerahkan hidup umat manusia di atas kesusahan dan penderitaan hidup yang penuh dengan startifikasi sosial, pesantren yang dahulu juga sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad Mansur suryanegara (2010), sebagai pengkaderan calon pemimpin yang memiliki kemampuan pembangkit kesadaran cinta pada tanah air, bangsa dan agama serta kemerdekaan, kini seolah telah hilang fungsi strategisnya di terjang oleh arus globalisasi zaman.
Dengan demikian, pengembangan pesantren menjadi tugas yang harus dipikirkan dan direalisasikan oleh segenap masyarakat muslim untuk menjawab tantangan kemajuan era globalisasi. Bukan lagi penjajahan secara fisik yang diselesaikan oleh pesantren saat ini, akan tetapi lebih pada apa saja yang diperlukan oleh pesantren dalam merealisasikan pengembangannya dan bagaimana upaya pesantren dalam memberdayakan skill atau potensi para santri untuk menanggapi arus era globalisasi. Mengingat era globalisasi merupakan tantangan yang  membawa konsekuensi secara sistemik. Berawal dari makin kaburnya jati diri bangsa hingga sikap materalistik yang dibingkai hukum rimba- yang kuat harta makin berkuasa yang lemah harta dipaksa menyerah.
A.    Pembahasan
Era globalisasi sering diasumsikan dengan kaburnya batas teritorial bangsa. Tergambar dengan jelas bahwa masyarakat memiliki keleluasan dalam kehidupannya sehari-hari. Akan tetapi keleluasaan tersebut, seringkali membawa konsekuensi pada hilangnya jati diri dan sikap hidup bangsa pribadi. Keteladanan bangsa sendiri sering ditimbang dengan keteladanan dari bangsa yang lebih maju sehingga melahirkan sikap hidup yang akulturalistik. Sifat corak kehidupan yang seolah semakin mempertuhankan hawa nafsu cenderung membawa sikap hidup yang materialistik.

Selasa, 17 April 2012

NEGERI IMPIAN


Negeri terlimpah berbagai sumber daya alam baik migas maupun non migas menjadi standar kesejahteraan masyarakat. Luasnya lautan yang membentang antar pulau menjadi mata pencaharian bagi para nelayan. Lebatnya tumbuh-tumbuhan di dalam hutan memberikan corak keanekaragaman hewan. Hamparan sawah yang sangat luas pun menjadi pemasok kebutuhan hidup masyarakat yang hidup dipedesaan. Berbagai macam budaya dan bahasa juga menjadi keunikan negeri ini sehingga para turis asing sering menyebut negeri ini sebagai surga dunia

Guru ku yang Tulus dan Ikhlas (Kutulusan yang berbuah kepercayaan)


Mendidik merupakan tanggung jawab yang besar bagi setiap orang. Kemampuan mendidik merupakan usaha yang  membutuhkan segenap potensi baik itu potensi kognitif, afektif, dan psikomotor.  Dalam dunia pendidikan formal, tanggung jawab mendidik lebih di serahkan kepada para guru. Profesi guru sering kali diberi gelar sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Barang kali, gelar seperti itu yang membuat sebagian orang menganggap profesi guru sebagai pekerjaan sampingan. Di sisi lain menjadi seorang guru dibutuhkan kemampuan mental yang matang diantaranya adalah memiliki sikap kesabaran dalam mendidik.
Bagi seorang guru TK kesabaran merupakan bekal yang paling besar dalam membimbing siswa. Perjuangannya bagaikan seorang petani yang menanam benih baru di tanah yang memiliki tingkat kesuburan tinggi. Begitupun juga, setiap informasi yang disampaikan pada anak kecil sangat mudah diterima dan tersimpan dalam memory mereka baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Sikap ketulusan dan keikhlasan dalam memberi rasa kasih sayang kepada anak-anak memancing mereka semakin akrab dan nyaman untuk diajak kerja sama dalam proses belajar. Sedangkan berbagai permainan, kisah-kisah dan lagu yang di ajarkan adalah usaha agar mereka tetap semangat untuk berangkat ke sekolah.

Proyek peradaban keluarga Islami


Keluarga merupakan kelompok terkecil dalam sebuah struktur sosial, namun berperan penting sebagai pilar utama dalam mengokohkan bangunan masyarakat. Dalam tataran makro sosial, keluarga sangat menentukan baik buruknya peradaban suatu bangsa. Ia sebagai lingkungan pertama dan utama dalam menginternalisasikan nilai-nilai kebajikan pada anak untuk menyambut masa depan. Jika proses internalisasi nilai-nilai dalam keluarga berjalan dengan baik, maka akan terlahir generasi cemerlang yang beradab. Sebaliknya, jika proses internalisasi tersebut gagal, maka akan muncul generasi buruk, tak berkualitas. Dan pada akhirnya, tingkat kebahagiaan dalam lingkungan keluarga menjadi rendah.
Di era globalisasi seperti saat ini, kebahagiaan keluarga menjadi sesuatu yang mahal harganya. Krisis multidimensi menuntut para orang tua untuk selalu berjuang menghadapi beban hidup yang kian menghimpit. Banyak orang tua yang lupa akan tujuan utama dalam membina rumah tangga. Peran seorang istri yang seharusnya memberikan kasih sayang kepada anak dan suami, semakin terabaikan oleh karir. Sedangkan peran seorang ayah sebagai pemberi perhatian dan  dukungan kepada istri dan anaknya, menjadi terlupakan oleh kesibukan di luar rumah. Tuntutan kebutuhan hidup modern yang meningkat pesat mengubah peran-peran strategis keluarga yang semestinya dijalankan. Tidak heran, kaum perempuan atau istri –misalnya-- turut berlomba-lomba dengan suami untuk mendapatkan kemajuan di segala bidang. Akibatnya, peran dan tugas utama para orang tua dalam mendidik anak sebagai tunas perubahan masyarakat terabaikan.
Dalam perspektif Islam, anak merupakan aset termahal bagi kedua orang tua, baik di dunia maupun di akhirat. Kehadirannya di dunia memberikan ketentraman bagi keluarga. Dan ketika telah dewasa, perannya sangat ditunggu oleh masyarakat untuk meneruskan keberlangsungan tatanan sosial. Oleh karena itu, proses penyemaian nilai-nilai positif bagi benih-benih calon penerus masyarakat menjadi tugas utama orang tua; ayah dan ibu. Bersandar pada tujuan berumah tangga, yaitu mencapai keharmonisan dan ketentraman keluarga, maka kerjasama (ta’awun) --dalam ilmu psikologi dikenal dengan co-parenting—guna menumbuhkembangkan kepribadian dan karakter anak yang saleh, menjadi prinsip utama untuk membangun keluarga islami yang berperan baik di masyarakat.

Menumbuhkan Karakter Cantik Perempuan dengan Ketaqwaan

Muslimah yang sholehah selalu menyejukan setiap org yg berelasi dengannya
Sejak dahulu kala hingga sekarang, kecantikan seorang perempuan merupakan ‘jurus’ yang cukup jitu dalam menundukan lawan. Tidak bisa dipungkiri pula banyak sebagian fakta sejarah bercerita tentang kelumpuhan seorang komandan perang oleh kecantikan perempuan. Ampuhnya jurus ‘kecantikan’ membuat sebagian para perempuan sekarang terus berlomba-lomba untuk tampil menghiasi dirinya.
Sederetan produk penghias dan perawatan tubuh di toko-toko kosmetik seperti pemutih dan pemulus kulit dan parfum yang wangi menjadi sasaran utama sebagai sarana untuk membentuk tampilan yang menarik orang. Tidak lupa pula sajian pola hidup untuk mempertahankan kelangsungan tampilan menjadi menu yang harus diperhatikan. Program diet makan menjadi menu utama  agar berat tubuh tidak bertambah sehingga kelihatan tetap ramping. Beraneka ragam aksesoris seperti menyambung rambut agar kelihatan panjang, meluruskan rambut, mengecat kuku tangan, mencukur alis, memakai baju sexy dan sebagainya seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang harus ditunaikan. Di sisi lain, banyak media elektronik maupun tulis seperti TV, majalah, koran selalu menampilkan publik figur yang dianggap mereka cantik. Al hasil seolah-olah membuat mereka terhipnotis dan memunculkan motivasi untuk mengejar kecantikan seperti para idolanya

Perempuan antara Tuntutan Nilai-nilai Islam dan Tuntutan Modernitas


Tantangan dunia masa kini yang glamour, kemajuan teknologi yang tidak dibendung dengan pendidikan membuat perilaku orang menjadi bebas. Belum lagi kondisi yang serba multikrisis, membuat sebagian orang merasa terserang penyakit mental terutama kaum perempuan. Stress, pasrah dan depresi sudah menjadi beban yang ditanggung oleh mereka yang tidak siap dengan tantangan zaman. Dalam berupaya untuk lolos dari cengkraman kesulitan zaman, banyak dari sebagian perempuan mulai berlomba-lomba dengan kaum laki-laki untuk mengaktualisasikan dirinya dalam berbagai ranah bidang kerja.
Sekarang, pola kehidupan telah modern, banyak nilai-nilai kehidupan yang bersifat traditional mulai ditinggalkan dan beralih pada kehidupan yang baru. Kehidupan manusia semakin ramai dengan berbagai macam aktivitas, kaum perempuan tidak hanya bertambah secara populasi melampui laki-laki, tapi juga peran – peran penting dalam kehidupan yang semakin melampui peran laki-laki dalam berbagai sisi kehidupan. Anis matta mengatakan bahwa Pertumbuhan populasi dan peningkatan peran-peran sosial politik oleh kaum perempuan akan menjadi pemicu paling efektif dalam proses demokratisasi sekarang dan masa depan. Fenomena diatas menjadi tantangan bagi dinamika kaum perempuan terkait dengan tuntutan modernitas zaman dan tuntutan untuk menjaga keislaman (berperilaku sesuai nilai-nilai islam)

Implementasi Jihad Intelektual dalam Menjawab Kebebasan Informasi

Maraknya berbagai informasi yang sangat cepat dinikmati oleh manusia memberikan pengaruh yang besar terhadap pola hidup mereka. Teknologi mejadi alat pertama dan utama sebagai segala sumber informasi. Kemajuan teknologi yang tidak dibendung dengan pendidikan akan melahirkan pola pikir kebebasan yang selanjutnya akan membawa konsekuensi pada keterpurukan moral. Baik buruknya suatu moral ataupun akhlak sesorang sangat menentukan kelangsungan hidup yang tentram dan harmonis. Oleh karena itu, jika setiap hari manusia selalu dihidangkan pada informasi-informasi yang tidak mempunyai makna dalam perbaikan hidup, maka tidak dapat dielakkan datangnya kehancuran dan keterpurukan di masa yang akan datang.
Dewasa ini perputaran arus informasi semakin sangat cepat dan mudah diakses oleh berbagai kalangan masyarakat. Berbagai media informasi cetak, ataupun yang bersifat audio visual mempunyai peranan besar dalam mengendalikan pola kehidupan masyarakat. Anehnya dalam memegang peran yang besar, banyak dari sebagian pemilik media berlomba-lomba untuk menyajikan informasi yang bersfat hiburan namun kurang bisa mendidik bagi para peminatnya. Keuntungan dari iklan-iklan menjadi perioritas utama untuk menampilkan seaksesoris mungkin tanpa mempertimbangkan moralitas.
Para pakar psikologi memberikan penjelasan, bahwa setiap informasi yang diterima oleh setiap orang diproses dalam kognitif. Kognisi adalah suatu konsep umum yang mencangkup semua bentuk pengenalan, meliputi: mengamati, melihat, memperhatikan, memberikan pendapat, mengasumsikan, berimajinasi,  memprediksi, berpikir, mempertimbangkan, menduga dan menilai. Proses penirimaan dan pengolahan informasi tidak bisa dilepas dari pengalaman seseorang. Sebagaimana yang dikatakan oleh Yadi purwanto dalam bukunya psikologi kepribadian bahwa pengalaman atau informasi terdahulu yang telah dimiliki oleh individu sangat berpengaruh pada aktivitas berpikir. Oleh karena itu setiap informasi yang telah diproses dalam kognitif akan melahirkan interpretasi yang selanjutnya melahirkan suatu kesimpulan dan berakhir pada pembentukan sikap.
Fakta yang terjadi dalam lingkungan sekitar yaitu, banyaknya media yang menyuguhkan sajian informasi tentang kasus pornografi artis kondang, sehingga membuat banyak anak kecil untuk meniru adegan yang dilakukan oleh tokoh idolanya, informasi yang disajikan dalam bentuk hiburan film kartun memberikan pengaruh sikap pada anak-anak kecil terhadap orag tua, informasi tentang kekerasan umat islam sehingga berdampak pada sebagian orang untuk phobia dengan islam, informasi yang memicu kemarahan umat islam sehingga memacing emosi kemarahan umat islam untuk mengambil suatu sikap. Untuk kalangan remaja, amat banyak sekali sajian informasi yang dikemas dalam hiburan film tentang kasus percintaan dari pada tentang peningkatan prestasi belajar ataupun prestasi hidup. Sebaliknya, sajian informasi yang berisi pemberitaan postif juga akan memberikan pengaruh positif pada seseorang. Contohnya yaitu, sajian tentang informasi yang bernilai pengetahuan akan menambah wawasan seseorang dan memberikan dorongan untuk belajar.
George Gerbner dan Larry Gross dari Universityof Pennsylvania memberikan istilah Pendekatan cultivation analisis sebagai sebuah metode yang dapat digunakan untuk menganalisis akibat-akibat dari fenomena yang terjadi di masyarakat melalui informasi massal. Oleh karena itu peputaran arus informasi yang semakin cepat berkonsekuensi pada proses sosialisasi (proses pembelajaran dengan disengaja) ataupun enkulturasi (proses pembelajaran tanpa disengaja) nilai-nilai yang tidak sejalan dengan nilai-nilai dasar yang hidup pada lingkungan masyarakat.
Dalam Prespektif Islam, menyikapi perkembangan informasi merupakan tanggung jawab yang besar bagi setiap orang terutama orang-orang yang dianugrahi keluasaan ilmu pengetahuan. Ilmu merupakan senjata yang tidak akan pernah terkalahkan dibandingkan dengan beribu pasukan yang siap tempur. Orang yang mempunyai keluasan ilmu akan mampunyai karakter kepribadian yang kuat serta kecerdasarn berpikir yang cemerlang. Sedangkan orang yang bermodal tenaga secar fisik, sangat mudah terpancing oleh perangkap kecerdasarn orang yang berilmu. Oleh karena itu kualitas kepribadian seseorang sangat menentukan perubahan dari pada  banyaknya orang tanpa kualitas yang menunjang. Hal ini seperti apa yang pernah dikatakan oleh seorang shahabat:

ترى الجموع ولكن لاترى احدا. وقد ترى همة الآلف فى رجل
Artinya: Kamu melihat sekumpulan orang akan tetapi kamu tidak melihat seorang pun. Dan sungguh kamu melihat seribu semangat orang hanya ada pada seseorang.
            Islam mewajibkan setiap para pemeluknya untuk saling memberikan nasehat satu sama lain. Umat yang terkontaminasi dengan berbagai informasi yang tidak sejalan dengan fitrah kemanusiaan dalam beragama, menjadi tugas yang utama bagi ilmuwan muslim untuk menyampaikan ilmunya. Allah menegaskan dalam firmannya “serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.(QS.An-Nahl:125). Perintah dalam ayat tersebut memberikan peringatan kepada umat islam untuk menunaikan kewajiban berda’wah kepada umat yang masih belum tersentuh oleh cahaya keislaman. Da’wah merupakan suatu usaha yang harus dilakukan orang muslimin agar umat manusia dapat memperoleh keuntungan dari visi tertinggi kebenaran agama yang telah diberikan Allah.
            Saat ini, tantangan seorang muslim ataupun da’i dalam berdakwah tidak lagi berupa tantangan fisik. Namun tantangan yang dihadapi, berupa penyebaran informasi yang bebas sehingga  pengaruhnya lebih besar dan menyeluruh keseluruh penjuru dunia. Amilia indriyanti dalam bukunya yang berjudul belajar Jurnalistik dari nilai-nilai Al-qur’an mengemukakan bahwa saat ini banyak kantor berita terkemuka di dunia dikuasai oleh kaum non muslim, terutama yahudi. Bangsa-agama ibrani yang pendudu-penganutnya tak lebih dari 1% penghuni bumi ini, mampu “mewarnai”(bahkan menguasai) dunia lewat tulisan. Mereka(dari dulu) dikenal sangat mahir dalam dunia kejurnalistikan, mampu mendirikan dan mengolahnya dengan baik.    
            Sekali lagi penulis tekankan, bahwa sudah saatnya kaum muslimin menyadari bahwa kehidupan dunia ini telah digerakkan oleh informasi bukan paksaan yang bersifat fisik. Untaian kata-kata atau kalimat-kalimat lebih tajam kekuatannya, seolah-olah umat mampu dihipnotis olehnya sehingga terlihat secara kasat mata kerusakan moral (dekandensi mora) di sekeliling kita. Oleh karena itu tidak heran jika ada pepatah mengatakan, “Goresan pena lebih berbahaya daripada seribu tentara,”.
            Jika kita menengok sejarah kejayaan islam, maka akan kita jumpai kisah para ilmuwan muslim yang cemerlang. Belajar dan menulis menjadi kesibukan sehari-hari yang tidak bisa dipisahkan dari hidupnya hingga ada untaian hikmah bahwa tintanya para ulama lebih mulia daripada darah syuhada. Karena meskipun seorang penulis telah pergi meninggalkan dunia, namun namanya akan tetap hidup sepanjang masa. Hal ini sudah menjadi bukti umum bukan hanya umat islam saja,misalnya yaitu tokoh filosof yunani, plato dan aristoteles meskipun jasadnya telah tiada beribu-ribu tahun yang lalu, namun seolah-olah masih berada dalam setiap masa. Bagi seorang ilmuwan muslim dunia informasi seharusnya menjadi medan yang utama dalam pertempuran intelektual.
            Islam memberikan pengarahan bahwa jika segolongan umat memberikan informasi yang kurang membangun umat, maka sebagai intelektual muslim menanggapinya dengan bidang disiplin keilmuannya masing-masing melalui penelitian, kepenulisan, media masa elektronik dengan berprinsip pada wajadilhum billati hiya akhsan (maka bantahlah mereka dengan bantahan yang baik) sehingga ada hikmah dari mauidhoh yang telah disampaikan. Dengan sangat nash islam memberikan gelar mereka ulul albab.

Yang mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal (QS.Az-Zumar,18). Ayat ini mengungkapkan ciri seorang ulul albab adalah selalu mendengarkan kalimat (informasi) untuk di pikirkan dan dianalisis sehingga mengetahui kebenaran untuk diamalkan. Pengejewantahan keilmuawan dalam pengentasan informasi-informasi yang dapat merusak pola pikir umat menjadi nilai ibadah yang sangat mulia sebagai implementasi jihad intelektual yang harus dilakukan oleh muslimin yang berilmu.

NB: karya Tulis ini sudah diperlombakan dan mendapat juara III dalam lomba di Majalah nurhidayah,


Senin, 16 April 2012

Spirit Al-Maun dalam Membendung Tantangan Kapitalisme

Dunia globalisasi telah memberikan tantangan yang sangat berat bagi mereka yang tidak memiliki mental yang kuat. Persaingan perekonomian dunia kini pun seolah-olah kembali pada hukum rimba, yang kuat yang menang dan yang lemah harus mengalah. Tergambar dengan jelas saat ini kehidupan penuh dengan prinsip kapitalis. Sebagaimana yang dikatakan oleh fukuyama (dalam Yadi Purwanto, 2007) dalam “the end of history”bahwa dia mengatakan, kapitalisme akan keluar sebagai pemenang. Era ini adalah era dimana semua dimaknakan dengan serba “uang” [1]. Dengan demikian penghargaan nilai dalam kapitalisme yang terbesar bagi setiap orang adalah seberapa besar nominal uang yang mereka terima. Oleh karena itu tidak heran, prinsip kapitaslisme mendidik masyarakat yang lemah bermental pasrahisme (nrimo mentality) jika diistilahkan dengan bahasa pak Reza M. Syarif dalam bukunya life Excellent.
         Prinsip pasrahisme (nrimo mentality) yaitu prinsip mentalitas menerima apa adanya. Prinsip  inilah yang tiap tahunnya banyak melahirkan orang  menggantungkan hidupnya pada gelar ijazah untuk meraih pekerjaan. Dengan kata lain prinsip untuk berkreatifitas dan mandiri untuk berbuat lebih menjadi terhenti, yang penting ada gelar ijazah dan dapat upah. Sedangkan bagi mereka yang tidak punya gelar ijazah dan tidak kuat menghadapi arus tantangan hidup, maka kriminalitas dianggap menjadi solusi untuk mengisi perut yang lapar. Alhasil, segala cara dan sarana digunakan untuk meraih tujuan hidup, yang halal menjadi haram dan haram menjadi terabaikan. Konsekuensi terbesar adalah keimanan mudah tergadaikan, kemiskinan semakin meningkat, pengangguran tiap tahun menjadi bertambah, dan kejahatan bermotif ekonomi menjadi tradisi.
          Jauh sebelum kapitalisme mengedalikan perekonomian dunia, islam mengajarkan kepada   umat manusia untuk mencari rizky di belahan dunia manapun. Dicontohkannya figur seorang entrepreneurship sejati yaitu Muhammad saw yang penuh dermawan dan kemudian diikuti oleh para sahabat-sahabatnya. Kesuksesan perekonomian mereka salah satunya terletak pada spiritnya berdagang untuk menjadi seorang pengusaha. Barangkali inilah energi spirit produk amal dari ajaran islam yang memerintahkan umatnya untuk mencari karunia Allah swt di belahan bumi manapun. Secara nash Al-Qur’an banyak menyebutkan, salah satunya adalah “Dia yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizkinya”[2].
         Islam memberikan kehormatan dan kemulaian yang besar bagi mereka yang memiliki motivasi menjadi pengusaha dari pada penguasa. Motivasi menjadi penguasa selalu diikuti dengan kehinaan. Perhatikanlah potongan hadist nabi, Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya engkau sekalian akan rakus terhadap kekuasaan padahal ia akan menjadi penyesalan di hari kiamat[3]. Sedangkan untuk menempuh motivasi menjadi seorang pengusaha telah diberikan oleh islam dengan penuh kehormatan. Misalnya, diajarkan motivasi untuk bisa beribadah haji, bershodaqoh sebagai pelipat ganda kebaikan dan zakat sebagai pensuci harta pendapatan. Oleh karena itu pengusaha merupakan cermin bagi pribadi yang merdeka. Merdeka bagi seorang pengusaha muslim yaitu bukanlah bersifat individualistik akan tetapi mampu memberikan kemanfaatan dan kemajuan bagi seluruh umat manusia terutama islam.
         Jika dianalogikan, seorang pengusaha muslim itu laksana lebah, mengabdi tidak mengharap kembali, dan tidak juga takut dicaci. Selalu memberikan manfaat bagi setiap orang yang dikunjungi. Niat utama adalah demi maslahah umah (kemanfaatan umat) sedangkan maisyah (penghidupan) biarlah Allah yang punya kuasa untuk mengatur dan mendistribukannya. Madu yang manis adalah hasil produk  olahannya yang tidak sekedar dikonsumsi namun juga multifungsi. Sedangkan ukiran karya dibalik sarangnya tidak sekedar berbentuk hexagon saja, namun menjadi bukti kedisiplinan, sistematika kerja dan mampu memberikan konstruksi dakwah yang jelas. Pengusaha muslim juga bukanlah sekedar inang yang mencari sukses secara pribadi seperti ajaran kapitalis, akan tetapi mempunyai motivasi untuk memberi kemaslahatan sebanyak-banyaknya bagi umat dengan diiringi visi yang jelas dan penuh inspirasi.