Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sabtu, 07 Agustus 2010

Co Parenting Poligami pada perkembangan kepribadian Anak dalam Perspektif psikologi Islami

Anak merupakan nikmat terindah bagi orang tua yang diberikan Allah SWT. Anak mempunyai nilai yang sangat penting dalam kehidupan orang tua melebihi harta kekayaan. Berbagai usaha orang tua dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tumbuh kembang kepribadian anak. Co parenting merujuk kepada bagaimana suami-istri bekerja bersama-sama dalam membesarkan anak-anaknya. Dalam keluarga poligami Co parenting merupakan tugas yang sangat berat dalam melaksanakan tanggung jawab kepada anak-anak. Tulisan ini mencoba untuk mengulas Co parenting poligami pada perkembangan kepribadian anak yang tentunya membawa konsekuensi terhadap Kepribadian anak.(more) 
Kata Kunci : Co parenting, Poligami, Perkembangan Kepribadian Anak
A. Pengantar
Seorang anak dilahirkan dengan indra yang lengkap ia siap untuk disirami kasih sayang orang tua yang merayakan kehadirannya karena anak adalah aset yang sangat berharga bagi kedua orang tua. Kehadirannya di dunia menjadi tumpuan orang tua ketika sudah menginjak usia tua dan sebagai penerus tongkat estafet pembangun Negara. Anak yang terdidik dan berkualitas secara intelektual, spritualitas akan berkembang menjadi orang dewasa yang berkompeten dan mampu menjalankan kehidupan, sehingga keberlangsungan negara dapat terjamin (Andayani dan Koentjoro, 2004). Namun Ketika kelahiran seorang anak disambut dengan keengganan, pengabaian, dan kejengkelan ia pun dapat merasakannya kendati si anak tidak dapat menyatakannya dengan kata-kata. Rasa pengabaian terhadap diri anak tersebut akan terbawa hingga menginjak dewasa. Adapun wujud dari sikap tersebut dapat berupa anak tidak mempunyai kepribadian yang sesuai apa yang diharapkan oleh orang tua seperti anak akan mudah mengabaikan nasehat dari orang tua, tidak patuh terhadap norma-norma masyarakat dan bisa jadi anak tersebut akan melakukan tindakan kriminalitas.
Menurut Erikson, anak-anak dilahirkan ke dunia dengan panca indra yang siap untuk menerima rangsangan ketika masih berada dalam rahim, mereka mempunyai kapasitas untuk mendengar, mencecep, dan membuka mata mereka. Karena janin ini hidup di dalam tubuh si ibu, kemungkinan besar ia akan menyerap pemikiran dan perasaan ibunya sebagai miliknya sendiri. (Laura M. Ramirez, 2004). Dalam pengertian biologis, anak merupakan pelanjut keturunan rangkaian pelestarian sebuah spesies dengan sifat spesifikannya. Dapat dipahami bahwa anak adalah tunas, embrio yang memiliki segala potensi yang telah dibawa dari lahir sebagai aspek genetika baik yang menyangkut intelegensi, ketahanan tubuh, emosi dan sebagainya ( Rini, 2005).
 Anak merupakan cerminan dari orang tua di masa yang datang. Perilaku anak merupakan campuran dari hereditas, gaya pola asuh orang tua serta pengaruh ligkungan sekitar seperti teman sebaya, teman sekolah, dan orang dewasa yang selalu menjadi teman bermainnya. Setiap orang tua menginginkan anaknya mempunyai kepribadian yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Oleh karena itu orang tua harus selalu memperhatikan tahapan-tahapan perkembangan fisik dan psikis anak. Orang tua sebagai tonggak utama dalam pembentukan kepribadian anak harus mampu mengetahui akan kebutuhan-kebutuhan anak seperti memberikan rasa kasih sayang, menjadi teman untuk curhat tentang permasalahan-permasalahan anak, menjadi motivator anak dalam meraih cita-citanya dan lain-lain.
B. Kajian
Memahami perkembangan anak merupakan sesuatu yang penting karena dapat membantu orang tua dalam menetapkan harapan yang realistis terhadap pembentukan kepribadian anak dan memberinya berbagai tugas yang menantang tapi tidak membuat mereka harus bekerja terlalu keras. Keberhasilan untuk melengkapi setiap tahap perkembangan akan menciptakan landasan yang kukuh bagi tahap perkembangan berikutnya. (Laura M. Ramirez, 2004).
Perkembangan berarti ‘perubahan secara kualitatif’. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar penambahan tiap senti pada tinggi badan seseorang atau kemampuan seseorang, melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks, sedangkan menurut istilah adalah development, yang merupakan rangkaian yang bersifat progresif dan teratur dari fungsi jasmaniah dan ruhaniah sebagai akibat pengaruh kerja sama antara kematangan (maturation) dan pelajaran (learning) ( Baharuddin, 2009).
Piaget (1974) berpendapat bahwa perkembangan mementingkan intelektual dan perkembangan moral yang saling berhubungan. Moral dipandang dengan intelektual anak. Perkembangan berjalan melalui stadium dan membawa anak dari tingkatan struktur yang lebih tinggi ( Baharuddin, 2009).
Perkembangan adalah suatu proses seumur hidup akan menciptakan makna dan memberikan prespektif bagi perjuangan hidup manusia. Karena jalur perkembangan manusia adalah salah satu jalur yang harus ditempuh oleh semua manusia, sebuah pengertian tentang prosesnya akan menciptakan suatu rasa keterkaitan dan empati kepada mereka
Proses perkembangan kepribadian anak harus berada pada pola asuh orang tua yang selalu melibatkan emosi dan rasa empatinya terhadap anak. Orang tua yang semata-mata memerhatikan anak-anaknya ketika mereka menuntutnya untuk bertindak sesungguhnya hanya bertindak karena merasa mempunyai kewajiban untuk itu. Sedangkan orang tua yang terlibat dengan anak-anaknya secara emosional sesungguhnya melakukan tindakannya berdasarkan kasih sayang yang murni. Bagi anak yang berkembang, perbedaan ini benar-benar amat tajam. Karena anak yang belum matang perkembangannya akan berakibat pada ketidaksesuaian antara usia anak dengan perilaku yang seharusnya dimiliki oleh anak.
Erik Erikson menyebutkan tahap-tahap perkembangan sebagai ”daur hidup” karena meskipun tahapan perkembangan anak melaju melewati tahap-tahap itu dalam suatu rangkaian, jika konflik tahap terntentu dibiarkan dan tidak terselesaikan, ini akan mempengaruhi tahap selanjutnya dan menjadi tahap yang terus berulang (Laura M. Ramirez, 2004). 
 Perkembangan melibatkan aspek fisik dan psikis yang keduanya akan membentuk prilaku anak. Pembentukan prilaku tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal. 
Dalam dunia psikologi, sejak dahulu ada dua aliran yang saling bertentangan dalam menentukan faktor manakah yang paling dominan dalam membentuk kepribadian anak. Kaum nativis yang dipelopori oleh Schopenhauer berpendapat bahwa faktor pembawaan lebih kuat dari pada faktor yang datang dari luar. Aliran ini didukung oleh aliran naturalism yang dibidani oleh J.J. Rousseau, yang berpendapat bahwa segala yang suci dari tangan Tuhan sedangkan yang rusak dari tangan manusia. Anak manusia sejak lahir ada di dalam keadaan yang suci tetapi karena dididik oleh manusia ia malah menjadi rusak dan bahkan kenal dengan segala macam kejahatan, penyelewengan, korupsi, mencuri dan sebagainya.
Berbeda dengan aliran empirisme yang dipelopori oleh John Lock, dengan teori tabula rasa, berpendapat bahwa jiwa anak sejak lahir masih bersih seperti tabula rasa (kotak kosong), dan baru akan dapat berisi bila menerima sesuatu dari luar, lewat indranya. Karena itu pengaruh dari luar yang lebih kuat dari pembawaan manusia.
Menyikapi pertentangan dua aliran itu, W. Stren mengajukan teorinya, yang terkenal dengan teori perpaduan atau teori konvergensi. Menurut teori ini, faktor internal dan eksternal itu sebenarnya berpadu menjadi satu. Keduanya saling memberi pengaruh. Ada kemungkinan bakat yang ada pada anak tidak akan berkembang kalau tidak dipengaruhi oleh segala sesuatu yang ada dilingkungannya. Demikian pula pengaruh dari lingkungan juga tidak akan dapat berfaedah apabila tidak ada yang menanggapi di dalam jiwa manusia (Rachmat Ramadhan al-Banjari, 2008).
Berdasarkan pengertian teori-teori diatas, bahwa faktor internl dan eksternal keduanya sangat melengkapi dan menentukan perkembangan kepribadian anak. Manusia dilahirkan dengan kapasitas untuk belajar, tetapi tidak memiliki pola-pola naluri tentang bagaimana ia harus bersikap dalam situasi-situasi tertentu. Walaupun begitu, tidak lama kemudian timbullah kesadaran di dalam diri si anak tentang orang lain di sekitarnya dan saat itulah pembentukan kepribadian dimulai. Menyamakan diri dengan orang lain merupakan salah satu mekanisme penting di dalam perkembangan yang terus-menerus dari tingkah laku manusia.
Kepribadian menunjuk pada apa yang menonjol pada diri seseorang. Suatu ciri kepribadian merupakan salah satu aspek atau fase dari suatu kepribadian menyeluruh. Kepribadian itu terbentuk, dipertahankan dan mengalami perubahan sesuatu proses sosialisasinya berlangsung. Empat faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian itu adalah:
1) Warisan biologis yang menimbulkan faktor-faktor variasi individu dalam hal mentalitas, tampang jasmaniah, serta kematangan.
2) Lingkungan geografis menimbulkan pengalaman-pengalaman yang berbeda di dalam diri orang-orang menyelaraskan dirinya terhadap dunia fisik
3) Lingkungan kebudayaan menyebabkan partisipasi yang berbeda-beda coraknya di dalam lingkungan kebudayaan yang menyeluruh
4) Lingkungan sosial menyebabkan partisapasi yang berlainan caranya di dalam kehidupan kelompok (Baharuddin, 137).
Dalam perspektif islam, kepribadian merupakan interaksi kualitas-kualitas nafs (jiwa), qalb (hati), ‘aql (akal), dan hissi (persepsi indra). Kepribadian selain berasal dari fitrah tabi’i (bawaan) sejak lahir yang merupakan warisan genetika orang tuanya juga terbentuk melalui proses panjang sejarah perjalanan hidup, proses internalisasi nilai pengetahuan, pemahaman, penghayatan, pengalaman dalam diri. Dalam perspektif ini, keyakinan agama yang diterima dari pengetahuan, pengalaman, maupun pengalaman masuk dalam struktur kepribadian seseorang. (Rachmat Ramadhana al Banjari, 2008:33). 
Manusia mendapatkan pengetahuan melalui jalan indranya. Dua indra yang paling penting dalam mendapatkan pengetahuan tersebut adalah indra pendengaran dan indra penglihatan. Melalui pengindraan dan pengetahuan itu melahirkan respon, sikap dan respon yang benar.
Untuk membentuk kepribadian islam pada anak adalah dengan memberikan pemikiran-pemikiran yang dibutuhkan untuk membentuk pola pikirnya kemudian pola jiwanya (nafsiyah). Sedangkan metode yang paling tepat untuk memberikan pemikiran-pemikirannya ini sekaligus mengambilnya adalah metode transfer pemikiran (at-talaqqiy al fikri). Metode ini menekankan pada kualitas pemahaman karena disampaikan oleh mereka yang mengamalkan ilmu yang akan diajarkan. Jadi bukan saja kebenaran matan (muatan isi) tetapi juga mensyaratkan kredebilitas dan integritas pribadi (pengasuh) (Yadi Purwanto.2007)
Kepribadian islami akan mampu melekat pada diri anak jika dalam pengembangan kepribadiannya selalu memulai dengan asas aqidah islam (‘aqidah al – islam) dan pola pikir islam (‘aqliyah al-isalamiyah). Dengan demikian anak akan mampu menjalankan keyakinan agama islamnya secara konsisten sehingga terbentuk kepribadian dalam dirinya kepribadian yang rabbani.
Kepribadian yang rabbani merupakan kepribadian yang selalu mencerminkan karakteristik pribadinya sebagai seorang muslim dalam bermua’malah dengan siapapun. Karakteristik inilah yang menjadikan islam sebagai ajaran hidup yang paling tinggi di sisi Allah SWT di atas semua ajaran hidup buatan manusia yang ada di bumi. Hal ini di tegaskan oleh Rosulullah saw. Bahwa islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihi ketinggiannya” al islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaihi.
Adapun karakteristik yang dimaksud dalam kepribadian Rabbani adalah :
1. Rabbaniyah ( ketuhanan )
Yang dimaksud ketuhanan adalah berorientasi kepada Allah dalam segala aspeknya. Orientasi itu meliputi:
a. Rabbaniyah ghayah wa mijhah (orientasi ketuhanan dalam tujuan dan sudut pandang)
Rabbaniyah tujuan dan sasaran ini mempunyai pengaruh yang mendalam pada jiwa dan kehidupan anak. Diantaranya adalah anak ketika menginjak dewasa mengetahui tujuan keberadaannya sehingga merasa bahwa hidupnya berharga, penuh nilai. Sedangkan buah yang kedua adalah anak akan merasa terbimbing pada fitrah islam yang telah diberikan oleh Allah SWT padanya. Adapun fitrah ini akan mendidik anak untuk menjahui dari perpecahan dan pergolakan yang bergejolak dalam diri. Karena islam telah menjadikan pribadinya untuk selalu hidup dalam mencari keridhaan Allah SWT.
b. Rabbaniyah masdar wa manhaj (orientasi ketuhanan dalam sumber sistem)
Rabbaniyah ini mengajarkan kepada anak untuk selalu memegang prinsipnya dalam berislam sehingga akan melatih pribadinya untuk tidak beribadah kepada selain Allah SWT karena segala aturan dalam hidupnya telah diatur oleh Allah SWT. Sedangkan buah dari Rabbaniyah ini adalah tumbuhnya sikap penghormatan dan penyucian kepada Allah SWT yang diikuti dengan sikap ridha terhadap ajaran yang terkandung di dalam aturan dan hukum – hukumnya. 
2. Al-Insaniyah (kemanusiaan)
Dalam islam aspek Al insaniyah (kemanusiaan) merupakan aspek yang melatih seorang anak untuk memahami keberadaanya dalam lingkungan sosial. Allah SWT memberikan kedudukan posisi yang mulia kepada seorang manusia:
a. Dijadikan sebagi khalifah
b. Diciptakan dalam bentuk yang baik
c. Adanya Ruh yang sengaja ditiupkan oleh Allah secara langsung
d. Alam ditundukan untuk kepentingan manusia
e. Mengakui segala eksistensi manusia
f. Membebaskan manusia dari keyakinan dosa warisan (Buku panduan Asistensi Agama Islam UNS, 2005).

Buah dari insaniyah atau kemanusiaan dalam islam adalah: ukhuwah (persaudaraan), persamaan dan kebebasan. Prinsip persaudaraan dalam islam adalah karena asal satu keturunan, yaitu berasal dari bani Adam dan Hawa.
Berdasarkan karateristik kepribadian Rabbani pada anak, penulis berkesimpulan bahwa dalam Co parenting orang tua yang berstatus muslim seyogianya mengetahui tujuan pendidikan dalam pengembangan kepribadian anak. Yaitu bagiamana membentuk pola kepribadian anak yang selalu dalam hidupnya mempunyai nilai – nilai spritualitas.
Anak –anak mengharapkan orang tua untuk menunjukan kepada mereka cara terbaik untuk hidup karena orang tua adalah cermin bagi perkembangan kepribadian anak. Dalam hal ini dibutuhkan pengasuhan dari orang tua dalam keluarga. Pengasuhan anak dalam sebuah keluarga merupakan keputusan bersama dari orang tua. Orang tua memberikan model yang lengkap bagi anak dalam menumbuhkan kepribadian. Co-parenting merujuk kepada bagaimana suami – istri bekerja bersama – sama dalam membesarkan anak – anaknya (McHale,Baker dan Radunovic,2007). Co – parenting dapat dilakukan ketika situasi hubungan antar anggota keluarga dapat terjalin dengan lancar. 
Prinsip Co – parenting adalah pemenuhan hak – hak anak ketika orang tua tidak berada disamping mereka. Sehingga hubungan antar keduanya menjadi tetap seimbang. Hak – hak dasar anak itu menjadi konsep dasar orang tua untuk berkomitmen dalam pendewasaan anak, sebagai penghormatan kepada mereka sehingga tidak ada pihak lain yang dapat mempengaruhi keretakan hubungan anak dengan orang tua.
Prinsip dari kebalikan pengasuhan ( Co-parenting) adalah memperlakukan anak secara istimewa oleh (single parent) orang tua tunggal dan meningkatkan pengasuhan yang telah diberikan, sebagai perlindungan hak – hak anak untuk mendapatkan perhatian secara berkelanjutan dan cinta dari kedua orang tuanya. (http://en.wikipedia.org/wiki/ Coparenting,di akses pada tgl 10 April 2010).
Tujuan pengasuhan anak adalah untuk membentuk moralitas, pengembangan kepribadian anak dan kompetensi untuk hidup kaitannya dengan proses sosialisasi anak. Proses sosialisasi ini diartikan sebagai pendidikan bagi anak agar dapat menjadi bagian dari masyarakat.(Andayani dan Koentjor, 2004). Pengasuhan anak secara umum bertujuan untuk membentuk anak menjadi pribadi yang berkarakter, yang memiliki kontrol diri yang tinggi sehingga dapat diterima menjadi bagian masyarakat disekitarnya. 
Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam. maupun non-Islam. Karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya. Dari sini, keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga
merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya.
 Islam menginginkan pasangan suami isteri yang telah atau akan membina suatu rumah tangga melalui akad nikah tersebut bersifat langgeng. Terjalin keharmonisan diantara suami isteri yang saling mengasihi dan menyayangi sehingga masing-masing pihak merasa damai dalam rumah tangganya. Ada tiga kunci yang disampaikan Allah SWT. dalam qur’an surat Ar-Rum ayat 21 tentang kehidupan rumah tangga yang ideal menurut Islam, yaitu : 1) Sakinah (as-sakinah), 2) Mawadah (al-mawaddah), dan 3) Rahmah (ar-rahmah).
 keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, merupakan suatu keluarga dambaan bahkan merupakan tujuan dalam suatu perkawinan dan sakinah itu didatangkan Allah SWT. ke dalam hati para nabi dan orang-orang yang beriman, maka untuk mewujudkan keluarga sakinah harus melalui usaha maksimal --- baik melalui usaha bathiniah (memohon kepada Allah SWT.), maupun berusaha secara lahiriah (berusaha untuk memenuhi ketentuan baik yang datangnya dari Allah SWT. dan Rasul-Nya, maupun peraturan yang dibuat oleh para pemimpin dalam hal ini pemerintah berupa peraturan dan perundang-undangan yang berlaku).
Keluarga sebagai lingkungan pertama kali yang dikenal anak memiliki andil yang besar dalam sosialisasi nilai. Bern (2004) menyatakan bahwa sebagai lingkungan yang pertama dan terdekat, keluarga memikul tanggung jawab yang utama dalam proses sosialisasi nilai kepada anak. Melalui keluarga ini, anak akan memperoleh nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan menjadi acuan untuk mengevaluasi perilaku (Elkin & Handel,Berns, 2004).
Dari berbagai pengertian diatas penulis menyimpulkan bahwa kehidupan keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah (Samara) merupakan keluarga idaman bagi setiap orang muslim. Kehidupan yang dibangun atas sikap Samara maka mempunyai tujuan yang jelas dalam pembinaan pengembngan kepribadian anak. 
Oleh karena itu menjadi orang tua secara otomatis memikul tanggung jawab yang berat. Seiring dengan pertumbuhan anak di era global dan multi krisis, orang tua dihadapkan pada tantangan yang lebih besar karena anak menghadapi sosialisasi nilai lain diluar rumah. Dalam menyelesaikan persoalan pengasuhan anak, sering Ada sebagian persepsi dari orang bahwa konsep poligami dapat membantu Co parenting anak. 
Arti dari istilah poligami adalah perkawinan dengan lebih dari satu pasangan. Poligami termasuk poligini, yaitu perkawinan dengan lebih dari satu istri, dan poliandri, yaitu perkawinan dengan lebih dari satu suami (Encyclopaedia Britannica, 2004). Istilah poligami sering dipakai untuk mengacu kepada poligini saja karena praktek ini lebih sering diamalkan daripada poliandri. Demikian juga dalam laporan ini, poligami dipakai sebagai sinonim poligini.
Osman Raliby dalam Kamus Internasional sebagaimana dikutip oleh Sufyan Raji Abdullah, menjelaskan bahwa kata poligami berasal dari bahasa Yunani "polygamie", poly berarti banyak dan gamie berarti laki-laki. Jadi poligami berarti laki-laki yang beristri lebih dari satu orang wanita dalam satu ikatan perkawinan. (Http://www.wahdah.or.id/wis /index.php?option=com_content&task=view&id=597&Itemid=137). 
Drs.Sidi Ghazalba mengatakan bahwa: "Poligami adalah perkawinan antara seorang laki-laki dengan lebih dari satu orang perempuan. Lawannya adalah poliandri, yaitu perkawinan antara seorang perempuan dengan beberapa orang laki-laki. Sebenarnya istilah poligami itu mengandung pengertian poligini dan poliandri. Tetapi karena poligami lebih banyak dikenal terutama di Indonesia dan negara-negara yang memakai hukum Islam, maka tanggapan tentang poligini ialah poligami. Dalam bahasa Arab, poligami diistilahkandenganal-Ta'addud.
Sebelum datangnya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, praktek poligami sudah dikenal luas dan tidak terbatas pada beberapa orang istri saja. Para raja serta para kaisar dikalangan bangsa Romawi melakukan praktek poligami, seperti kaisar Sila mempunyai 5 orang istri (permaisuri) dan kaisar Bombay memiliki 4 orang istri. Sementara seorang bangsawan Cina kuno mempunyai istri sekitar 30.000 orang, Padahal undang-undang Cina kuno hanya mengizinkan laki-laki untuk mempunyai istri sampa 130 orang. Para nabi kaum Bani Isra'il selain nabi Isa 'Alaihi al-Salam juga berpoligami. Nabi Dawud 'Alaihi al-Salam beristri lebih dari dua orang. Nabi Ibrahim 'Alaihi al-Salam beristri 2 orang wanita. Nabi Ya'kub 'Alaihi al-Salam mempunyai istri 4 orang dan Nabi Sulaiman 'Alaihi al-Salam mempunyai 100 istri. 
Dikalangan bangsa Arab Jahiliyah, poligami sangat membudaya, baik dikalangan bangsawan maupun dikalangan rakyat jelata. Poligami yang mereka praktekkan juga tidak ada batasannya. Sebagai bukti, adalah Qais bin Harits mempunyai 8 orang istri, Ghailan bin Umaiyyah mempunyai 15 orang istri, Naufal bim Mu'awiyah mempunyai 5 orang istri. Abdul Muthalib bin Hasyim mempunyai 6 orang istri, Abu Sufyan mempunyai 6 orang istri. Shafwan bin Umaiyyah mempunyai 6 orang istri. Demikian pernyataan Sufyan Raji Abdullah sebagaimana yang beliau kutip dari Al-Muhbir Ibnu Habib, h.357.Majma' Al-amtsalI/35. 
Salah satu ayat Al-Qur’an yang membahas tentang poligami adalah An-Nisaa’ [4]: 3 
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja...” 
(Departemen Agama Republik Indonesia 1992) 
Penafsiran ayat-ayat dari Al-Qur’an dan Hadits mengenai poligami berbeda-beda. Pendapat orang Islam terhadap poligami dapat digabungkan ke dalam tiga kelompok utama. Kelompok pertama berpendapat bahwa orang yang berpoligami mengikuti Sunah Nabi Muhammad maka secara otomatis mendapatkan pahala. 
Menurut kelompok ini, poligami dianjurkan bagi laki-laki yang mampu melaksanakannya. Poligami “dijadikan sebagai alat ukur keimanan seorang laki-laki” (Setiati 2007). Menurut kelompok kedua, poligami tidak dianjurkan dalam agama melainkan diperbolehkan dalam keadaan tertentu. Sebagai contoh, poligami dapat diamalkan oleh seorang suami untuk mencegah perzinaan, untuk menolong janda-janda miskin, atau jika istrinya sakit atau mandul sehingga kurang mampu menjalankan kewajibannya sebagai istri. Kelompok ketiga percaya bahwa poligami itu seharusnya tidak dijalankan pada masa kini. Menurut kelompok ini, poligami dilakukan oleh Nabi Muhammad karena kondisi tertentu yang ada pada zaman itu, yaitu masa perang yang menimbulkan banyak janda dan anak yatim yang perlu dilindungi. Maksud ayat QS An-Nisaa’ [4]: 3 adalah untuk membatasi jumlah istri yang boleh dinikahi dan “menghapuskan poligini/poligami secara perlahan”.

C. Analisis

Dalam pandangan penulis bahwa agama Islam menginginkan pasangan suami isteri yang telah atau akan membina sebuah rumah tangga melalui akad nikah bersifat langgeng, terjalin keharmonisan diantara suami isteri yang saling mengasihi dan menyayangi sehingga masing-masing pihak merasa damai dalam rumah tangganya. Ada tiga kunci yang digariskan oleh Allah SWT dalam Qur’an surat Ar-Rum ayat 21 tentang kehidupan rumah tangga yang ideal menurut Islam, yaitu : 1) Sakinah (as-sakinah), 2) Mawadah (al-mawaddah), dan 3) Rahmah (ar-rahmah).
 Keluarga Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah, merupakan suatu keluarga dambaan bahkan merupakan tujuan dalam suatu perkawinan dan sakinah itu didatangkan Allah SWT ke dalam hati para nabi dan orang-orang yang beriman, maka untuk mewujudkan keluarga sakinah harus melalui usaha maksimal baik melalui usaha bathiniah (memohon kepada Allah SWT.), maupun berusaha secara lahiriah (berusaha untuk memenuhi ketentuan baik yang datangnya dari Allah SWT dan Rasul-Nya, maupun peraturan yang dibuat oleh para pemimpin dalam hal ini pemerintah berupa peraturan dan undang-undang yang berlaku).
Dengan pola keluarga yang harmonis maka akan terwujud pola pengasuhan anak yang seimbang (Co parenting). Prinsip Co parenting adalah pemenuhan hak- hak anak ketika orang tua tidak berada disampingnya sehingga hubungan antar keduanya menjadi tetap seimbang. Hak-hak tersebut menjadi konsep dasar orang tua untuk berkomitmen dalam pendewasaan anak sebagai penghormatan kepada mereka sehingga tidak ada pihak lain yang dapat mempengaruhi keretakan hubungan keduanya. 
Seorang ibu merupakan pengembang utama bagi pendidikan anak. Bagaimana mungkin seorang ibu yang tidak bahagia (unhappy mother ) bisa memberikan kebahagiaan bagi anak-anaknya yang akhirnya hal tersebut bisa menjadi bumerang bagi keutuhan perkembangan jiwa anak.
. Penulis berkesimpulan bahwa poligami adalah perkawinan seorang lelaki dengan lebih dari satu orang wanita, yang sudah dikenal luas dan dipraktekkan oleh ummat terdahulu di berbagai belahan dunia tanpa mengenal pembatasan. Sesudah diutusnya Nabi Shallalahu 'Alaihi Wasallam, praktek poligami hanya dibolehkan sampai empat orang istri dengan syarat sang suami dapat berlaku adil (adil lahiriyah) kepada seluruh istri-istrinya.
Allah SWT dengan keteatapannya telah menciptakan jumlah populasi wanita lebih banyak daripada kaum lelaki. Namun kaum lelaki memiliki peluang yang lebih besar untuk tertimpa kematian dalam berbagai musibah karena tanggung jawabnya untuk mencari nafkah yang begitu sulit. Jika lelaki dibatasi menikah hanya satu orang saja, maka akan terjadilah penumpukan wanita yang tidak menikah sehingga kondisi jika tidak dibarengi dengan penanaman keimanan yang kuat, akan tergiringlah mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan terhina seperti zina.
Poligami merupakan bagian dari sunnah nabi. Pelaksanaan sunnah nabi tersebut hendaknya dilakukan sesuai dengan kadar kemampuan seseorang yaitu dapat berlaku adil dan dengan proses yang baik. Berlaku adil bukan berarti membagi sama rata seperti seorang ayah membagi roti kepada anak-anaknya namun inti dari adil dalam Co parenting adalah bagaimana seorang ayah mampu menempatkan rasa kasih sayangnya terhadap anak-anaknya. Sedangkan pada proses poligami yang baik yaitu dengan melibatkan istri pertama dalam memperoleh izin untuk menikah yang kedua kalinya. Jika perizinan itu diterima oleh istrinya maka proses poligami akan berjalan dengan baik dan sekaligus hal ini bisa menjadi ujian bagi seorang istri untuk meletakan hakikat rasa cintanya kepada Tuhan sebagia hamba Allah di atas cintanya kepada suami. Dengan demikian buah dari tanggung jawab poligami bagi seorang ayah adalah mereka mampu menerapkan pola Co parenting yang saling mendukung antara istri yang pertama dengan istri yang kedua pada pembentukan dan perkembangan kepribadian anak menjadi manusia yang berkepribadian dengan karakter yang islami atau disebut juga terbentuknya kepribadian Rabbani pada anak.
Poligami yang tidak sesuai dengan hukum syar’i akan menciptakan hubungan yang tidak sehat dalam keluarga, hal tersebut akan menjadi faktor rusaknya lembaga perkawinan yang merupakan pukulan dan dapat menghancurkan mental anak yang tidak berdosa, sebab poligami akan merampas perlindungan dan ketentraman anak yang masih berjiwa bersih. Akibat negatifnya yaitu anak tidak betah dirumah, hilangnya tokoh idola, kehilangan kepercayaan diri, berkembangnya sikap agresif dan permusuhan serta bentuk-bentuk kelainan lainnya. Keadaan itu akan makin diperparah apabila anak masuk dalam lingkungan yang kurang menunjang. Besar kemungkinan pada gilirannya akan merembes ke dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas lagi.
kata Seto Mulyadi, psikolog anak, saat dihubungi VIVAnews melalui telepon pada 27 oktober 2009 ."Pada dasarnya semua anak mengharapkan memiliki keluarga yang ideal yang terdiri dari satu ayah dan satu ibu. Anak ingin selalu disayangi dan mendapatkan perhatian secara penuh. Saat ayah melakukan poligami maka rasa cemburu, marah, sedih kecewa tentu tidak bisa dihindari. Kata kak seto menambahi" Jika memang sang ayah melakukan poligami, cobalah berbesar hati meminta maaf pada anak. Karena, poligami pasti melukai anak dan bisa membuatnya berpikir negatif dan apatis terhadap lembaga pernikahan kelak. Menjelaskan dengan kesabaran dan meminta maaf adalah salah satu acara untuk meminimalisir dampak negatif poligami bagi anak". 
Dari uraian yang penulis kemukakan maka dapat disimpulkan bahwa sudah menjadi keharusan bagi orang tua untuk membimbing dan mendidik anak-anaknya, karena anak-anak yang tidak mendapatkan bimbingan dan pendidikan yang wajar dari orang tuanya akan menimbulkan kelemahan pada diri anak dalam perkembangan dan pertumbuhan psikologisnya.
Jika hal ini diasumsikan ke dalam keluarga yang berpoligami, maka sudah dapat dibayangkan bagaimana hubungan antara anak dengan ayahnya. Seorang ayah yang berpoligami berarti ia harus mampu menerapkan rasa kasih sayangnya terhadap anak-anaknya, Mampu menjadi tempat curhat bagi anak-anaknya, sebagai teman bermain dan menjalin komunikasi yang membangun dengan kedua istrinya sehingga proses Co parenting akan berjalan dengan seimbang.  
Kesimbangan Co parenting pada poligami pun akan bisa mengajarkan beberapa hal diantaranya adalah Anak akan menjadi belajar lebih tegar dalam menghadapi sebuah persoalan, ia juga bisa memiliki toleransi yang lebih tinggi dan jika diberikan pengertian dengan baik pikirannya bisa lebih menerima hal-hal yang dianggap sulit untuk diterima banyak orang. 
Namun jika seorang ayah tidak dapat menjamin akan dapat berlaku adil maka ia harus mengubur niatnya untuk berpoligami dan mulai memikirkan cara untuk memperbaiki keadaan keluarga dan perkembangan psikologi anak yang tak berdosa yang bisa menjadi korban dari kerusakan atau penyelewengan moral akibat tatanan keluarga yang tak utuh. Dimana keadaan keluarga sangat mempengaruhi perjalanan hidup dan masa depan anak karena lingkungan keluarga merupakan arena dimana anak-anak mendapatkan pendidikan pertama, baik rohani maupun jasmani.
"Ketahuilah, bahwa anak merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dan akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh pengguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa” ( Abu Hamid Al Ghazali).






 
DAFTAR PUSTAKA
 Adz-Dzakiey. Hamdani Bakran. 2006. Psikologi Kenabian Memahami Eksistensi Kecerdasan Kenabian. Yogyakarta. Daristy.
Andayani, B. dan Koentjoro. 2004. Psikologi Keluarga, Peran Ayah Menuju Coparenting. Surabaya: CV. Citra Media
Asyanti Setia & Sri Lestari. 2008. Keluarga Sebagai Tonggak Penyemai Benih-Benih Pemimpin yang Berkarakter Tangguh. Disampaikan pada Temu ilmiah Nasional Psikologi Islami III. Di Yogyakarta 22 – 23 November 2008.
Berns,RM. 2004. Child, Family, School, Community: Socialization and Supprt.5th ed. Forth Worth: Hartcourt Brace College Publishers..
Dickson Anne Louise. Pandangan Ibu-Ibu ‘Aisyah Di Malang Terhadap Poligami. Australian Consortium For In-Country Indonesian Ke-24. Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang. Juni 2007. Diakses pada tanggal 15 April 2010.
Baharuddin. Pendidikan dan psikologi perkembangan. 2009. Yogyakarta. Arruz Media.
Doe Mimi dan Marsha Walch. 2001. 10 Prinsip Spritual Parenting. Bandung. Mizan
 M. Ramirez. Laura. 2004. Mengasuh Anak dengan Visi Seni Membesarkan dan Menjaga Anak agar Menjadi Dirinya Yang Autentik. Jakarta. PT Bhuana Ilmu Populer.  
Purwanto. Yadi. 2007. Psikologi Kepribadian integritas Nafsiah dan Aqliyah perspektif psikologi Islami. Bandung. PT. Refika Aditama.
 Na’imah KHotimatun. 2008. Karya ilmiah Co- Parenting Di Sudut Psikologi Islami. Disampaikan pada Temu ilmiah Nasional Psikologi Islami III. Di Yogyakarta 22 – 23 November 2008.
 Gunarsa Singgih dan Y. Singgih D. Gunarsa. 2004. Psikologi Praktis: Anak, Remaja, dan Keluarga. Jakarta. BPK Gunung Mulia.
Ramadhani al – Banjari, Rachamat. 2008. Membaca Kepribadian Muslim Seperti Membaca Al-Qur’an. Yogyakarta : Diva Press.
http://meetabied.wordpress.com/2009/12/25/pengaruh-poligami-terhadap-perkembangan-psikologi-anak/.diakses pada tgl 11.april 2010. http://en.wikipedia.org/wiki/Coparenting. Diakses pada tgl.10 April 2010.
http://www.wahdah.or.id/wis/index.php?option=com_content&task=view&id=597&Itemid=137 . (meluruskan beberapa persepsi tentang poligami di akses pada tanggal, 15 April 2010).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar