Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 05 November 2010

Menjangkau yang Terabaikan (karakteristik keshalehan dalam dunia pendidikan sebagai Tunas Peradaban Islam)

Pada saat ini umat manusia tengah menghadapi perkembangan kebudayaan modern yang menyangkut pertumbuhan dahsyat dengan landasan modernisme barat yang bersifat pragmatik. Oleh karena itu berbagai sarana yang mampu merubah dunia disesuaikan dengan pandangan hidup ala barat. Hal ini dapat diketahui dari berbagai isi media-media yang ditawarkan oleh barat salah satunya lewat media televisi. Televisi (TV) adalah salah satu instrumen globalisasi. Semua peristiwa dapat kita saksikan melalui TV. TV merobek dan menembus batas “ruang” dan mencabut waktu yang menghubungkan setiap ruang. Dampak dari semua itu melahirkan masyarakat yang hidup dalam pola modernisasi dan modernisme.
Modernisasi dan moderisme berarti mengesahkan penolakan manusia terhadap nilai-nilai ketuhanan dan menggantinya dengan norma teknokratik yang sekaligus mengagungkan individulismenya sehingga mempersempit peranan akal dan hati nurani. Dalam hal ini hati nurani dan akal digunakan hanya sebagai sarana atau alat pencapaian tujuan yang telah dirancang oleh system pertumbuhan dan kekuasaan untuk memenuhi kebutuhan akan bahan baku dan pasar produks. Fenomena diatas telah kita saksikan dalam sistem pendidikan yang lebih menitik beratkan pada kemampuan kognitif peserta didik lewat kesuksesan mereka dalam mengikuti ujian nasional.
Corak pendidikan yang mengukur kesuksesan hanya pada aspek kognitif dalam menghadapi tantangan global maka akan melahirkan watak kehidupan manusia yang penuh dengan persaingan (winner & loser) serta pesimistik (takut tidak bisa bertahan hidup dan dorongan untuk mencari sebanyak-banyaknya). Watak kehidupan manusia tersebut akan membuat system pola kehidupan bermasyarakat bersifat eksploratif-opportunistik (mencari keuntungan tanpa prinsip dikarenakan melemahnya potensi spiritual dan moral.

Selasa, 26 Oktober 2010

Inspirasi di tengah kebingungan

Ada seorang pemuda yang lama menjalani pendidikan di luar negeri namun tidak pernah belajar agama Islam, kini kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia diminta kedua orangtuanya untuk belajar agama Islam, namun ia memberi syarat agar dicarikan guru agama yang bisa menjawab 3 pertanyaan yang selama ini mengganjal dihatinya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kyai dari pinggiran kota.

Pemuda : ”Anda siapa dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?”
Kyai : ”Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.”

Pemuda : ”Anda yakin? Sedangkan Profesor di Amerika dan banyak orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.”
Kyai : ”Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.”

Pemuda : ”Saya ada 3 pertanyaan:
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya !
2. Kalau memang benar ada takdir, tunjukkan takdir itu pada saya !
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

Pemuda : (sambil menahan sakit) ”Hei ! Kenapa anda marah kepada saya?”
Kyai : ”Saya tidak marah... Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.”

Pemuda : ”Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.”
Kyai : ”Bagaimana rasanya tamparan saya?”

Sabtu, 07 Agustus 2010

Co Parenting Poligami pada perkembangan kepribadian Anak dalam Perspektif psikologi Islami

Anak merupakan nikmat terindah bagi orang tua yang diberikan Allah SWT. Anak mempunyai nilai yang sangat penting dalam kehidupan orang tua melebihi harta kekayaan. Berbagai usaha orang tua dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tumbuh kembang kepribadian anak. Co parenting merujuk kepada bagaimana suami-istri bekerja bersama-sama dalam membesarkan anak-anaknya. Dalam keluarga poligami Co parenting merupakan tugas yang sangat berat dalam melaksanakan tanggung jawab kepada anak-anak. Tulisan ini mencoba untuk mengulas Co parenting poligami pada perkembangan kepribadian anak yang tentunya membawa konsekuensi terhadap Kepribadian anak.(more)

Aku BanGga BerLslAm

Setiap ummat yang terdapat di bumi ini pasti mempunyai karakteristik yang khas. Karakteristilah yang menjadi identitas setiap umat untuk dikenal. Tanpa ada karakteristik pasti tidak ada umat yang bisa hidup sendiri. Karena karakteristik merupakan symbol adanya kekuatan suatu umat untuk hidup bersama – sama (berjama’ah). Umat islam yang menjadi salah satu komponen kehidupan umat di dunia ini, tentunya mempunyai cirri karakteristik yang paling istimewa dibandingkan dengan umat – umat yang lainya. Hal ini tentunya menuntun kita sebagai orang muslim untuk tampil lebih percaya diri ditengah – tengah umat. Allah SWT telah memberikan kepada kita sebuah motivasi dalam firman- Nya yang artinya:. janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.(QS.Al-imron : 139 ).(more)

kekuatan berpikir positif

Dalam dinamika kehidupan selalu ada jalan yang mengganjal. Sehebat apapun manusia jika tak punya besic atau benteng diri yang kuat maka akan terlarutlah dia dalam arena kehidupan. Banyak persoalan hidup yang membuat orang – orang tak mampu menghadapinya sehingga al hasil adalah lahirnya jiwa – jiwa individu yang mudah depresi, paranoid dan mudah marah. Fenomena ini sangat jelas terlihat dalam bangsa kita pasca pemilu legislatif. Banyak diantara para caleg – celeg yang gagal mendapatkan harapannya berubah menjadi cagil – cagil ( calon gila – calon gila ). Bahkan jauh sebelumnya pihak – pihak instansi rumah sakit telah menyiapkan kamar – kamar khusus untuk par cagil – cagil. Yang menjadi benang merah dalam fenomena tersebut adalah kurangnya kemampuan para calon – calon legislative dalam berpikir positif.(more)