Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Featured Posts

Selasa, 17 Juli 2012

Be A Good Muslim, yg Lain No Coment,,,


Lelaki Shaleh :)
Setelah banyak mempelajari tentang faktor-faktor pembentukan kepribadian dan keterarahan segala aktivitas manusia, maka menjadi Muslim ialah pilihan pertama yang harus direalisasikan. Bukankah begitu kawan??, dengan dasar slogan islam “Al-Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaih”, (islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihi ketinggiannya, merupakan slogan yang menggelitikkan hati kita untuk tampil Percaya diri sebagai seorang muslim, perhatikanlah Allah swt memerintahkan kita untuk tampil sebagai seorang muslim,
Artinya:  "Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)" (QS. Al-Imron: 64).
 Be A good Muslim adalah dambaan setiap orang. Kepribadiannya terbentuk diawali dengan peletakan nilai-nilai dasar kehidupan yaitu Aqidah islamiyah (dokrin Tauhid) . Alur interaksi kehidupannya terbingkai dalam ibadah (ubudiyah) dan hubungan sosial yang islami (muamalah). Keindahan akhlaknya dalam bermuamalah berjalan dalam tata aturan ilahiyah yang bepusat pada God sentries.

Pesonamu Lebih Baik dari Personamu


Membaca sekilas sub judul di atas pasti teringat dalam memory kita seorang penyanyi kelas papan atas yaitu bang Ariel. Grup bandnya yang bernama peter pan sempet menjadi icon idola para remaja kala itu. Bahkan sampai sekarang pun lagu-lagu dari grup band yang tersohor itu masih banyak peminatnya. Nah, satu lagu berjudul topeng dengan reff yang berbunyi bukalah topengmu, bukalah kulit warnamu, seolah kepribadian manusia itu selalu diliputi topeng. Yups,,benar aja si ariel mungkin dia sebelum menciptakan lagunya baca buku psikologi dulu ya? Hhe..Kepribadian manusia memang dalam istilah psikologinya sering diartikan sebagai persona yang artinya adalah topeng.
Contoh soal topeng nih ada cerita klasik “Dr.Jengkyl and Mr. Hyde” karya Robert Louis Stevenson yang bercerita ttg seorang dokter penolong yang juga pembunuh. Di siang hari, Dr jengkyl berprofesi sebagai seorang dokter yang menyelamatkan kehidupan manusia, di malam hari ia berlaku bagai setan kegelapan pencabut nyawa. Menarik memang, bagaimana dua pribadi yg bertolak belakang tersebut bisa hidup akur dalam satu tubuh
Pesonamu lebih baik dari Persona (Topeng)mu
Nah,,topeng yang tidak menggambarkan kepribadian asli seseorang seolah menjadi pertahanan diri agar banyak diminati dan bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar.  Carl Gustav Jung, salah satu murid freud seorang pakar psikologi psikoanalisis, dengan teori psikologi analisisnya dia mengatakan bahwa dalam diri seseorang terdapat mask. Mask tersebut merupakan mekanisme perlindungan sekaligus mekanisme adaptasi manusia terhadap kondisi eksternalnya. Orang awam menyebut mask ini sebagai topeng. Setiap orang memakainya unuk beradaptasi. Pada beberapa orang, topeng ini dipakai dengan begitu tebalnya atau begitu terbiasanya, sehingga orang itu sendiri pun sulit membedakan mana dirinya yang sesungguhnya dan mana yang topengnya.
Ketidak jelasan identitas kepribadian ini biasanya membuat seseorang mudah galau. Kok bisa?,

Ah,, G’MALU,!!! PROFESIKU IBU RUMAH TANGGA


Pagi itu tanggal 15 juli hari akhad berkumpul para ibu-ibu di balai desa gonilan kartasura. Mereka hadir dengan niat yang tulus dan ikhlas untuk mengikuti pelatihan dukungan positif bagi pengasuhan anak. Bagaimana mereka tidak tulus dan ikhlas?? Mereka telah menyempatkan waktu pagi hingga siang pukul 14.00 hanya untuk menjadi pendengar agar dapat wawasan tentang pengasuhan anak yang benar. Yach,,bagi mereka yang tidak punya niat yang ikhlas tentu waktu pagi, mereka lebih utamakan untuk di rumah, entah ngobrol dengan tetangga atau sekedar duduk-duduk di teras rumah menunggu pedagang kaki lima. Lagi pula hari itu adalah hari akhad bertepatan dengan hari libur bagi mereka yang bekerja di instansi-instansi. Jadi peluang bagi ibu-ibu untuk menikmati hari liburnya sangat terbuka lebar.
Namun niatan untuk menikmati hari libur yang tanpa makna, lebih diurungkan oleh para ibu-ibu yang hadir dalam pelatihan di balai desa gonilan. Satu persatu ibu-ibu datang dengan sapaan dan ekspresi tersenyum. Anak-anak kecil digendong menjadi bukti rasa kasih sayang seorang ibu sedangkan raut wajahnya terlihat seolah tidak menanggung beban saat bertemu dengan setiap orang. Mereka mulai duduk di kursi-kursi yang telah dipersiapkan oleh para panitia sembari menunggu hadirnya pembicara.
Tepat pukul 10.20 acara dimulai, meski jadwal yang telah direncanakan pukul 09.00 tapi tidak masalah bagi ibu-ibu yang sudah menunggu sejak awal (barangkali mereka sudah memaklumi,,klo tradisi soal waktu di Negara ini selalu mundur heehee), eits,,kemunduran rencana waktu bukan karena panitianya yang molor lho,,,tapi dengan penuh kesabaran panitia menunggu hadirnya ibu-ibu. Soalnya saat itu yang datang baru dua orang hiihii,,bener-bener karakter indo banget ^ ^.
Suasana Seminar hehe ^ ^
So start aja deh,,pukul 10.20 acara di mulai. Pelatihan diawali dengan senam menari selama lima menit dengan diiringi alunan musik penggugah semangat,,,Ayo “ibu-ibu kita gerakkan telapak tangan kita,,dengan nada suara,,tang ting tung tang,,ting tung,,lalu letakkan tangan di pinggul sambil goyangkan badan kesamping dua kali,nah sekarang gerakan tangan bebas ibu-ibu senyaman kalian”. Hehee,,hee suuer lucu banget saat lihat ibu-ibu itu menari. Keceriaan pun akhirnya terlihat dalam ruangan tersebut. Hhee seolah kembali lagi seperti saat waktu masih kanak-kanak ya ibu,,^ ^.
Nah, setelah senam tari selesai saatnya komando sersan (serius tapi santai) di awali. Pemberian meteri pun disampaikan dengan penuh gaya variatif sehingga tidak bikin para ibu mengantuk. Berbagai pertanyaan tentang pengasuhan anak pun dilontarkan oleh ibu kepada pembicara. Yach,,inilah bukti ibu-ibu serius klo mau mendidik anaknya lho..^ ^. Meteri pertama di sajikan bagaimana komunikasi yang postif dan membangun emosional anak. Saya yang saat itu sebagai observer pelatihan di dalam rungan Cuma bisa bergumam,,”semangatmu mencari ilmu sungguh luar biasa bu,,fisikmu sudah tidak lagi muda tapi jiwamu masih muda dan membara, sungguh engkau telah mengalahkan kami yang masih muda. Kesungguhanmu untuk menciptakan generasi cemerlang selalu engkau bingkai dalam rasa kasih sayang” awesome!!! Pelatihan yang sangat menarik.

Rabu, 06 Juni 2012

Kerikil yg Mengganjal

The Journey in Cannal--Cenduren Village
Selasa 1 mei 2010 ?? Yach,,itulah sebagian dari nama hari beserta kode planning kehidupan manusia. Aneka ekspresi setiap orang musti beraneka ragam. But That’s day  special for me. Why???karena ada beberapa hal yang bikin senam emosi hehe,, Pertama, waktu malam ada pertandingan bola dan club favorite ku Manchesetr Cty saat itu sedang bertanding melawan sang juara musim lalu yaitu Manchester United. Meski pertandingan ini jadwalnya tengah malam jam 1, tapi bagi saya, pokoknya harus nonton coz ini pertandingan yang sangat seruuu. J.Entah kesambet virus cinta apa saya hee,,sangking cintanya sama club itu, jadwal aktivitas malem saya atur dengan rapi, jam 21.00 pun saya jadwalkan untuk tidur dan malemnya jam 00.30 bangun. Eits,,kenapa harus bangun jam 00.30? hehee..sebagai manusia saya sadar bagaimana meletakkan rasa cinta terhadap hobi dengan kepada sang Khalik yaitu Allah. Kebutuhan kepada Allah lah yang pertama saya dahulukan. Coz ditengah malem itulah kemuliaan dan keagungan Allah akan terasa dekat saat kita curhat kepadaNya. Rasa syukur jika diucapkan dengan menghayati beberapa nikmat yang telah diberikan kepada kita saat malam hari, seolah memberikan kesadaraan dan perasaan malu berapa banyak nikmat yang telah kita shodaqohkan, padahal sering kali Allah memperingatkan kita “nikmat mana yang engkau dustakan?” dan dalam sindirannya di ayat lain juga disebutkan “amat sedikit orang-orang yang bersyukur”. “Duh Rabb yang menggenggam alam semesta ini ampunilah daku yang banyak lupa akan nikmat-Mu”.

Sabtu, 02 Juni 2012

DoN’t sTtoP HerE !!!

Berawal dari ucapan seorang teman “akhi antum ikut pelatihan menulis bahkan menjadi panitia dalam acara pelatihan menulis akan tetapi klo gak pernah sama sekali menjatuhkan tinta dari hasil pikiran antum ya,,percuma saja. Ilmu yang antum dapatkan gak ada manfaatnya”. Jleb…bagaikan pisau yang membelah buah semangka, kaget dan menjadi bepikir saya. Iya benar juga ya,,,kenapa saya selalu ikut pelatihan menulis tapi gak pernah saya sekali menulis..ah,,bikin umur saya terbuang sia-sia..begitu gumamku. Dengan semangat untuk perbuahan, saya pun mulai pergi ke gramedia untuk melihat hasil karya buku-buku para penulis. Sampek di gramedia saya pun melihat ratusan buku-buku yang tersebar. Orang-orang banyak menikmati bacaan buku tersebut. saya sendiri pun bingung karena judul buku-buku yang dijual sangat beranek ragam. Ada buku kuhusus pendidikan, novel, bacaan ringan yang jelas banyak deh,,bikin kepala ini bingung mau baca yang mana. Hee..J. Karena memang niat pertama ke gramedia Cuma pengen lihat-lihat buku.

Memformulakan Pesantren sebagai Embrio Masyarakat Madani melalui Strategi Pemberdayaan Skill Santri

Pesantren tumbuh bersamaan dengan pertumbuhan islam di indonesia. Visi dan misi awal terbentuknya pesantren tidak terlepas dari visi misi agama islam yaitu untuk membangkitkan intuisi beragama dan menggugah fitrah kemanusiaan (insaniyah) sehingga menjadi pemeluk agama yang taat dan patuh pada aturan-aturan islam (muttaqin). Tujuan pendidikan tersebut memberikan dampak pada perluasan agama islam di Indonesia menjadi semakin luas.
Keberhasilan pesantren masa dahulu dalam merealisasikan visi dan misinya memberikan rasa simpati pada masyarakat. Sehingga lembaga pendidikan tersebut sampai saat ini masih tetap survive. Banyak dari sebagian masyarakat sekarang masih memilih anaknya untuk belajar di pesantren dengan alasan sebagai berikut, adanya anggapan bahwa mendidik agama bagi anak adalah suatu kewajiban sehingga pesantren merupakan solusi yang tepat, di sisi lain pesantren merupakan lembaga yang baik dalam menata akhlak anak dan biaya pesantren yang relative terjangkau terutama di pesantren yang masih bercorak tradisional.
Besarnya kepercayaan masyarakat terhadap pesantren dan semakin majunya perkembangan zaman menimbulkan formulasi yang baru pada lembaga pendidikan tersebut, baik dari segi menejemen pesantren, gaya kepemimpinan kyai atau ustadz, pengembangan visi, perubahan model pembelajaran dan pemberdayaan sumber daya manusia. Pesantren yang tidak peka terhadap kemajuan zaman hanya akan mendidik para santrinya “terkurung dalam tempurung ego”. Para santri hanya akan memiliki karakter kesholehan secara pribadi sedangkan keshalehan untuk orang lain (kemuslihan) menjadi terabaikan. Tergambar dengan jelas dalam lingkungan sekitar, bahwa para alumni dari pesantren banyak yang kebingungan dalam mencari pekerjaan. Hal ini disebabkan, rendahnya ketrampilan yang dimiliki kaum santri dan masih tidak diakuinya ijazah lulusan dari pesantren oleh sebagian lembaga-lembaga yang membuka lowongan pekerjaan.
Dewasa ini kemajuan teknologi dan era globalisasi menjadi tantangan yang harus ditanggapai oleh lembaga pendidikan pesantren. Era globalisasi telah banyak merubah sikap hidup masyarakat. Nilai-nilai materialistik seolah telah menghipontis sebagian masyarakat sehingga menjadi prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, tidak jarang banyak dari sebagian para orang tua beralih memilih sekolahan yang lebih siap dalam menyiapkan peserta didiknya di masa depan. Dengan demikian, pesantren sudah bukan menjadi prioritas utama bagi masyarakat dalam menitipkan anaknya. Terabaikannya pesantren juga tidak lepas dari persepsi masyarakat tentang fenomena pesantren yang cenderung masih konservatif, tradisonal dan ortodoks. Sehingga menimbulkan animo di sebagian kalangan masyarakat, bahwa pesantren bagaikan “penjara” bagi anak. Segalanya penuh dengan peraturan dan anak sangat sedikit memiliki ruang kebebasan dalam mengembangkan kemampuannya.
Fenomena diatas memberikan gambaran bahwa pesantren yang tidak sanggup menjawab tantangan kemajuan zaman, akan semakin kehilangan kepercayaannya dalam masyarakat. Pesantren yang dahulu sebagai embrio untuk mencerahkan hidup umat manusia di atas kesusahan dan penderitaan hidup yang penuh dengan startifikasi sosial, pesantren yang dahulu juga sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad Mansur suryanegara (2010), sebagai pengkaderan calon pemimpin yang memiliki kemampuan pembangkit kesadaran cinta pada tanah air, bangsa dan agama serta kemerdekaan, kini seolah telah hilang fungsi strategisnya di terjang oleh arus globalisasi zaman.
Dengan demikian, pengembangan pesantren menjadi tugas yang harus dipikirkan dan direalisasikan oleh segenap masyarakat muslim untuk menjawab tantangan kemajuan era globalisasi. Bukan lagi penjajahan secara fisik yang diselesaikan oleh pesantren saat ini, akan tetapi lebih pada apa saja yang diperlukan oleh pesantren dalam merealisasikan pengembangannya dan bagaimana upaya pesantren dalam memberdayakan skill atau potensi para santri untuk menanggapi arus era globalisasi. Mengingat era globalisasi merupakan tantangan yang  membawa konsekuensi secara sistemik. Berawal dari makin kaburnya jati diri bangsa hingga sikap materalistik yang dibingkai hukum rimba- yang kuat harta makin berkuasa yang lemah harta dipaksa menyerah.
A.    Pembahasan
Era globalisasi sering diasumsikan dengan kaburnya batas teritorial bangsa. Tergambar dengan jelas bahwa masyarakat memiliki keleluasan dalam kehidupannya sehari-hari. Akan tetapi keleluasaan tersebut, seringkali membawa konsekuensi pada hilangnya jati diri dan sikap hidup bangsa pribadi. Keteladanan bangsa sendiri sering ditimbang dengan keteladanan dari bangsa yang lebih maju sehingga melahirkan sikap hidup yang akulturalistik. Sifat corak kehidupan yang seolah semakin mempertuhankan hawa nafsu cenderung membawa sikap hidup yang materialistik.

Selasa, 17 April 2012

NEGERI IMPIAN


Negeri terlimpah berbagai sumber daya alam baik migas maupun non migas menjadi standar kesejahteraan masyarakat. Luasnya lautan yang membentang antar pulau menjadi mata pencaharian bagi para nelayan. Lebatnya tumbuh-tumbuhan di dalam hutan memberikan corak keanekaragaman hewan. Hamparan sawah yang sangat luas pun menjadi pemasok kebutuhan hidup masyarakat yang hidup dipedesaan. Berbagai macam budaya dan bahasa juga menjadi keunikan negeri ini sehingga para turis asing sering menyebut negeri ini sebagai surga dunia